Slider
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
16.12
Coba kita artikan kata GALAU eaahh.. galau adalah
kata yang sangat popular akhir-akhir ini terutama dikalangan muda generasi
bangsa INDONESIA (hee). Semua telah
terjangkit syndrom, sebuah kata yang menandakan seseorang
tengah dilanda sebuah rasa kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran,
gandah gulana serta kesedihan pada jiwanya lalu pemikirannya. Herannya nihh bro and
sist
banyak orang yang bangga (pake banget) mengatakan
dirinya sedang galau. Entah itu pejabat, pegawai, buruh, pengangguran, kaya,
miskin, tua, muda, pelajar ataupun santri telah latah mengkampanyekan ‘galau’
di negeri kita ini bisa terlihat dalam dunia sosial media.
Habis Galau Terbitlah Tenang
Written By Unknown on Rabu, 04 Maret 2015 | 16.12
Kata galau jelas sudah menjadi kata yang sudah menjalar bebas di setiap
lidah para makhluk-makhluk hidup (iya lah) . lalu apa yang harusnya
dilakukan jika galau sudah menjadi-jadi dan virus-virusnya sudah semerbak?, dan
apa penyebab galau? Serta apa dong obatnya?
Kawan, dalam
Al-Quran pada pertengahan surah al-Ma’arij ayat 19 sampai 35 ditegaskan, bahwa “sesungguhnya manusia
itu diciptakan bersifat galau lagi keluh kesah, kecuali sembilan golongan,
yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat, orang-orang yang terhadap hartanya
telah disediakan bagian tertentu (zakat) atau hak yang telah ditetapkan untuk
orang-orang miskin, baik yang meminta atau pun yang tidak meminta, orang-orang
yang meyakini hari kiamat, orang-orang yang takut terhadap azab Allah,
orang-orang yang memelihara kemaluannya dari perbuatan keji, orang-orang yang
mampu menjaga dan menunaikan amanat dan janji-janjinya, orang-orang yang
memberikan kesaksiaannya dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka
itulah golongan penghuni surga lagi di muliakan”.
(QS. Al-Ma’arij).
Galau ataupun
gelisah bisa dialami dan dirasakan oleh setiap orang. Biasanya nih penyebab kondisi mentalitas ini yakni oleh
faktor-faktor tertentu, di antaranya yakni ketidakberdayaan
menanggung beban hidup, kegagalan, tekanan eksternal dan permasalahan berat
lain yang menerpanya (serem bangett dah ). Dengan sangat jelas ada efek dari kondisi ini biasanya ialah
timbulnya gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan, terutama kesehatan
jiwa (ihhhhh..).
Sebuah kajian
tentang kesehatan jiwa pernah menyebutkan, dari populasi orang dewasa di
Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 persen atau 17,4 juta jiwa
mengalami gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi. (Republika.co.id)
Dalam kajian ilmiah pula, para pakar kedokteran pun mempunyai kesimpulan tersendiri yakni bahwa obat
mujarab untuk mengobati penyakit gelisah ini yakni
bermuara kepada keimanan (emang iman nomor one)
Coba kita artikan kata GALAU eaahh.. galau adalah
kata yang sangat popular akhir-akhir ini terutama dikalangan muda generasi
bangsa INDONESIA (hee). Semua telah
terjangkit syndrom, sebuah kata yang menandakan seseorang
tengah dilanda sebuah rasa kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran,
gandah gulana serta kesedihan pada jiwanya lalu pemikirannya. Herannya nihh bro and
sist
banyak orang yang bangga (pake banget) mengatakan
dirinya sedang galau. Entah itu pejabat, pegawai, buruh, pengangguran, kaya,
miskin, tua, muda, pelajar ataupun santri telah latah mengkampanyekan ‘galau’
di negeri kita ini bisa terlihat dalam dunia sosial media.
Keraguan
akan senantiasa menghantui hidup manusia apabila pikirannya dibiarkan tergonjang-ganjing oleh keberadaan permasalahan
hidup. Apalagi keyakinannya pada keberadaan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai
penolong masih terjebak dalam ritual adat-istiadat semata, sehingga berhala
menjadi tempat pengaduannya. Fenomena tersebut begitu jelas di depan mata kita
dan terjadi pada sebagian besar umat Islam. Kesibukkan dan rutinitas menjebak
mereka yang merasa ‘galau’ untuk mengambil langkah pragmatis dalam penyelesaian
problema hidup.
Pada dasarnya,
manusia adalah sosok makhluk yang lemah dan bergelimang dosa. Wajar ajah jika disebut sebagai makhluk yang paling sering
dilanda kecemasan, apalagi ketika dihadapkan pada permasalahan hidup. Inilah
fitrah bagi setiap insan yang memiliki akal pikiran dan tidak perlu dirisaukan
karena Allah Subhanahu Wata’ala telah menyiapkan penawarnya. Sebagaimana firman
Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat ke 28 yang
artinya :
“(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”
Orang yang
senantiasa mengingat Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala dalam segala hal yang
dikerjakannya, tentu akan memiliki dorongan positif pada diri dan jiwanya.
Karena dengan mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi segala
persoalan, dijamin pikirannya akan cerah dan bijak serta jiwanya diselimuti
ketenangan akan datangnya bantuan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah merupakan
janji Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka
didalam hatinya pastilah terisi dengan ketentraman-ketentraman yang tidak bisa
didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
Orang yang galau
itu orang yang tak mampu memahami bahwa
masalah yang menimpanya adalah ujian yang dapat meningkatkan derajatnya disisi
Allah. Bagai seseorang yang akan meraih gelar sarjana maka pasti akan diuji
terlebih dahulu, jika ia mampu menyelesaikan beberapa tahapan ujian tersebut,
maka ia akan lulus, namun jika gagal maka ia akan kembali melakukan perbaikan.
Begitupun ujian dalam kehidupan ini, berat dan ringannya ujian di sesuaikan
dengan kedudukannya dihadapan Allah. Jika ia adalah orang yang kuat agamanya,
maka kuat pula ujian baginya. Bagai sebuah permisalan semakin tinggi pohon semakin
besar angin yang menerpanya (asiiikkk).
Tau gak Orang
yang sedang galau itu orang yang tak mampu bersabar atas
ujian dari Allah, merasa diri mereka sebagai orang yang paling menderita,
mengumbar seakan-akan lemah tak berdaya. Padahal sesungguhnya musibah dan
masalah adalah sarana untuk melatih kesabaran. Kita tidak akan dapat bertahan
dalam sebuah kebaikan kecuali dengan bersabar. Kita tidak dapat mentaati Allah
dan menjauhi kebatilan kecuali dengan sabar.
Oleh karena itu
kita sebagai umat Islam sesungguhnya tidak perlu bersusah payah mencari jalan
keluar bagi hati yang galau, jika setiap saat kita berdzikir dan berinteraksi
dengan Al Qur’an maka rasa galau yang merasuki pikirann akan sirna. Oleh karena
itu wajarlah jika para remaja atau pemuda masa kini dengan mudahnya terserang
‘virus’ galau, karena mereka jarang berdzikir atau mendengarkan dan membaca Al
Qur’an, bahkan mereka lebih cenderung mengobati kegalauan lewat status curhat
di Facebook dan Twitter atau bahkan friendster (aha jadul banget) mendengarkan
musik dan nyanyian yang pada dasarnya semua itu merupakan sumber kegalauan yang
cukup besar. Sehingga yang galau semakin galau, yang tidak galau menjadi galau juga (haha).
Dengan demikian,
kita tak perlu lagi resah dan gelisah akan perasaan galau
yang merajut kehidupan
kita, marilah kita menjadi orang yang bijak dalam merespon realita, karena
galau itu tak sekedar rasa, melainkan akan menjadi bagian dari warna-warni
kehidupan jika kita mampu memaknainya dengan bijak. Olehnya itu marilah kita
mengarungi hiruk pikuk kehidupan ini dengan menyandarkan setiap kegalauan
kepada Sang Pemilik kehidupan, sebagaimana yang Allah telah sebutkan dalam
firman-Nya: “orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram.” (QS – ArRa’d 28).
Terkhusus umat
Islam, jika benar-benar menjalankan dan mengindahkan semua syari’at yang telah
dibawa Rasulullah, sudah barang tentu kejayaan umat peradaban akan kembali
mewarnai dunia ini. Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa tidak ada
istilah ‘galau’ pada umat manusia ketika aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala
ditegakkan di atas bumi ini. Artinya, Islam
adalah ajaran yang menentang ‘galau’ karena syari’at Islam adalah rahmatan lil
‘alamin.
Nih kawan gue kasih
tau bahwa ada Ayat-ayat penawar galau yakni :
Ayat
pertama, berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Kita sangat dituntut untuk memiliki semangat bekerja keras, namun apapun
hasilnya harus diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana
telah berfirman Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya:
“Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap.“ (QS: al Insyirah: 7-8).
Dengan berserah kepada Allah Subhanahu
Wata’ala, kita akan melakukan apapun dengan ketenangan dan kenyamanan bathin
karena ada jaminan Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa memelihara
ciptaan-Nya. Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya:
“Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya
Allah telah mengadakan
ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).
Ayat
kedua, bersabar karena Allah Subhanahu Wata’ala.
Bersabar disini bukan berarti menunggu dan pasrah begitu saja, sabar dalam
artian menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala sebagai yang terbaik dan
senantiasa mempersiapkan diri untuk melakukan yang terbaik pula. Allah
Subhanahu Wata’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 200 yang artinya:
“Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah
Subhanahu Wata’ala, supaya kamu beruntung.”
Ayat
ketiga, berteguh hati dan fikiran. Flash-back
terkait makna ‘galau’ jika dipahami keresahan hati, maka kita sebagai umat
Islam harus memiliki keteguhan hati dan fikiran bahwa Allah Subhanahu Wata’ala
telah mengatur semesta alam ini. Jadi, tidak ada lagi kebimbangan mau jadi apa
dan kemana masa depan kita, yang penting lakukanlah apa yang terbaik yang dapat
dilakukan. Berikut Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya :
“Dan
Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah Subhanahu Wata’ala) Yang Mengetahui akan yang ghaib
dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)
Ayat
keempat, sedih dilarang Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagai umat
Islam, kita harus merasa beruntung dalam berbagai hal kehidupan. Karena Islam
telah merangkum aturan hidup manusia hingga akhir zaman, dan tidak sepatutnya
seorang hamba Allah Subhanahu Wata’ala bersedih kecuali sedih karena dosanya.
Allah Subhanahu Wata’ala memotivasi kita dalam firman-Nya yang artinya:
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya
Allah Subhanahu Wata’ala bersama kami.” (QS. At Taubah: 40)
Ayat
kelima, menghadap Allah Subhanahu Wata’ala. Adukanlah
semua permasalahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena pasti Allah Subhanahu
Wata’ala mempunyai semua solusinya. Sangat wajar jika kita menemui masalah
dalam menjalani kehidupan ini, namun jangan pernah mundur atau takluk pada
permaslahan itu. Allah Subhanahu Wata’ala sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam
ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:
“Hanya
kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah 5).
Jadi, umat islam harus
senantiasa menkolerasikan antara kehidupan dengan berlandaskan pada al-qur’an
agar selalu mendayuh melodi kehidupan dengan alunan syair ayat-ayat al-qur’an
tersebut. Gak usah lagi deh ngomong ‘galau’ jika
itu berimbas pada perilaku kalian yang kemudian akan menduakan Allah. Al-Quran dan As-Sunnah telah disempurnakan dalam
merangkum aturan hidup manusia, sehingga tiada lagi problematika hidup jika
kita bersandar pada sang pencipta kehidupan. Dan Islam pernah membuktikan dalam
berabad-abad lamanya, yakni mampu memakmurkan kehidupan makhluk di jagat raya
ini.
#Sonari Pauziah
Agribisnis 2011
Departemen Syiar 2014
Label:
ARTIKEL
17.07
Masih
banyak orang menganggap bahwa bertani adalah pekerjaan yang kuno dan cenderung
tidak keren. Bisa dibilang, petani seringkali dipandang sebelah mata. Mungkin
mereka lupa, kalau bukan karena petani yang menanami lahan tidak akan ada beras
yang mereka makan. Bertani memang ada sejak dulu, sesudah zaman berburu. Tapi
pertanian takkan lapuk dimakan usia. Pada kenyataannya sektor pertanian masih
menjadi sumber penghidupan masyarakat. Angka sensus terakhir 67% masyarakat
Indonesia tinggal di pedesaan yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai
petani.
Petani
adalah seseorang yang mengolah lahan pertanian. Dari hasil pertanian tersebut
digunakan untuk memenuhi kehidupan makhluk hidup khususnya manusia, terutama
dalam segi pangan. Sungguh mulianya pekerjaan petani. Tak terbayangkan apabia
tak ada petani dari mana kita bisa makan dengan nikmat. Allah menugaskan
manusia agar melindungi dan melestarikan alam ini. Salah satunya dengan
mengolah lahan atau tanah yang kosong menjadi lahan pertanian yang bermanfaat
bagi semua makhluk hidup. Dikatakan bagi semua makhluk hidup karena hewan dan
serangga pun juga menikmati hasil pertanian. Sebagaimana yang telah Allah
jelaskan pada ayat suci Al-Quran berikut,
Pertanian dalam Al Quran
Written By Unknown on Kamis, 01 Mei 2014 | 17.07
Oleh: Dewi Tri S.
(Departemen Humas dan Media Gamais 2014)
Tidak
ada yang tidak penting dalam Islam. Dari bangun tidur kita baca doa, makan kita
baca doa, semua sudah diatur. Apalagi pertanian yang kaitannya dengan kebutuhan
pangan, sandang dan papan manusia.
“Siapa saja yang mempunyai lahan hendaknya diusahakan untuk bertani
dan atau diserahkan ke saudaranya untuk bertani dan jangan disewakan”. (HR Bukhari)
Kebutuhan
kita akan barang elektronik seperti mesin cuci, kulkas, kipas angin dan
semacamnya bisa ditunda. Minggu depan, bulan depan, tahun depan. Tapi kebutuhan
kita akan makan tidak bisa ditunda. Setiap hari kita harus makan. Dalam hadits
shahih disebutkan bahwa,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani,
Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah )
Pertanian
merupakan media sumber pangan dan bermanfaat untuk orang lain.
Kalau
kita masih berkutat di pertanian, kita juga sedang menanam sumber energi,
devisa pengentas kemiskinan. Selain itu,
pertanian juga berperan sebagai pelestari dan penjaga lingkungan. Kadang kita
terlalu meng-underestimate kemampuan
kita sendiri. Kita negara besar yang sedang berkembang dan akan terus maju.
Kekayaan pertanian kita bagus dan memang diakui dunia. Komoditas tidak terlalu
jelek, misalnya lada putih, sawit, nilam, karet, beras, kakao, lada hitam, kopi
dan teh. Kita sebenarnya bisa swasembada beras, yang kejadian impor ilegal
kemarin hanya permainan segelintir orang untuk kepentingan pribadi maupun
kelompoknya.
Pertanian sebagai Pelajaran bagi Orang Beriman
Keimanan
seseorang diuji dari bagaimana sikapnya dalam menghadapi pengelolaan dan
pengolahan pertanian. Karena semua di dunia ini hanya milik Allah. Apabila
sewaktu-waktu Allah menurunkan musibah maka kita harus tetap beriman kepadaNya,
begitu pula dalam hal apabila Allah menurunkan rezeki pada kita. Karena masih
banyaknya masyarakat yang memiliki kepercayaan takhayul atau mistis dalam
bidang pertanian. Seperti contoh memberikan sesajen agar hasil pertaniannya
meningkat atau lancar. Jangan sampai kita terjerumus kepada hal-hal yang dapat
melemahkan bahkan menghilangkan keimanan kita sebagai Muslim. Salah satu firman
Allah dalam Al-Quran,
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar,” (Surah Al-Baqarah : 155)
Pertanian sebagai Pekerjaan/Ibadah/Aktivitas yang Mulia
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui” (Surah Al Baqarah : 22)
“(33) Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi
yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya
biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan. (34) Dan Kami jadikan
padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya
beberapa mata air, (35) Agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil
usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur.” (Surah Yasin : 33-35)
Pertanian sebagai Perumpamaan yang Baik
Bertani
merupakan ibadah karena dalam bertani pun kita harus selalu berikhtiar,
bertawakal, bersabar, dan bersyukur. Hal tersebut merupakan perumpamaan baik
karena kita harus berikhtiar, yakni berusaha untuk menjaga dan mengolah
pertanian dengan baik agar mendapatkan hasil pertanian yang sesuai dengan
harapan. Berikhtiar saja pun tak cukup, dalam bertani kita pun harus bertawakal
kepada Allah, karena semuan di
dunia ini adalah milik Allah, Allah-lah yang menentukan segalanya, rezeki Allah-lah
yang memberi. Bila Allah berkehendak demikian, maka demikianlah hasilnya.
Tak
luput dalam bertani pun harus bersabar
dan bersyukur. Bersabar karena hasil
pertanian membutuhkan waktu yang panjang, tidak dengan waktu yang kilat
sebagaimana kita memakan makanan yang berasal dari hasil pertanian tersebut.
Dan contoh lainnya bersabar ketika mulai mengolah tanah, kemudian menanam
bibit, lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Semua itu memerlukan kesabaran.
Sabar manakala pertanian tersebut diserang hama dan penyakit, maka kita harus
merawatnya dengan lebih intensif. Hama seperti binatang atau pun serangga yang
memakan pertanian kita apabila kita ikhlas, hal itu dapat berupa pahala, karena
sama halnya kita bersedekah untuk para hama itu. Kesabaran sangat diuji
manakala hasil pertanian yang telah dirawat dengan penuh jerih payah tersebut
dicuri sebagian, namun apabila kita ikhlas, maka pahalalah yang kita dapat.
Ikhlas agar hasil curian tersebut sebagai sedekah baginya. Bersyukurlah atas segala
rahmat dan rezeki yang Allah berikan. Karena didalam pertanian banyak ladang
pahalanya. Tanpa pertanian maka kitakan sulit untuk memenuhi kebutuhan seperti
sandang, pangan, dan bahkan papan. Allah pun berfirman dalam kitabnya,
Al-Quran,
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin
Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka
selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang
telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap
(tegak) sedikitpun. (QS Ibrahim : 25-26)
"Tiada seorang Muslim yg bertani/berladang lalu hasil taninya
dimakan burung atau manusia atau binatang melainkan bagi dirinya pahala bersedekah (HR. Bukhari)"
Pertanian sebagai Ilmu dan Teknologi
Perternakan,
perikanan, dan kehutanan pun termasuk kategori pertanian. Dalam mengelolanya
dibutuhkan ilmu pengetahuan. Hal ini agar mendapatkan hasil yang diharapkan.
Maka, karena itu ilmu pengetahuan penting dalam pertanian. Bahkan Allah pun
menaikkan derajat bagi penuntut ilmu, sebagaimana firman Allah dalam kitab
Al-Quran,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu,
maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah Al-Mujadilah Ayat 11)
Pentingnya
menuntut ilmu dalam hadits banyak dijelaskan, contohnya dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
“Rasulullah salallaahu’alayhi wassallaam bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka
Allah memudahkan jalan baginya menuju syurga.”
Untuk
itu, bersyukurlah wahai anak Adam karena telah ditempatkan Allah di lingkungan
pertanian, ya kampus hijau ini. Manfaatkanlah masamu dengan torehan sejarah
indah untuk kejayaan pertanian Islam.
Label:
ARTIKEL
03.48
Tanah dan Awan
Written By Unknown on Rabu, 18 Desember 2013 | 03.48
Dua Cara dalam Memandang Bukti Kekuasaan Allah
Bagaimana Tuhan mampu mencipta awan dari dalam angin? Angin itu
membuat awan bergolak dalam keadaan berkeping-keping lalu menyusun dan
meng-gabungkannya satu sama lain. Angin pun kemudian membuahinya. Hasilnya oleh
Allah SWT dinamakan dengan lawaqih. Kemudian Dia mengirimkan awan di
atas angin itu ke bumi yang membutuhkannya. Apabila telah berada di atasnya,
awan itu menumpahkan airnya. Pada saat air itu masih di angkasa, Allah SWT
mengirimkan angin yang menceraiberaikan air itu agar tidak membahayakan dan
menghancurkan apa yang ditimpanya. Apabila bumi telah basah dan memenuhi
hajatnya terhadap air, hujan berhenti- dan awan pergi. Dengan demikian, awan itu
adalah penyiram bumi, dibawa oleh angin. Dalam Sunan Tirmizi dan lainnya
disebutkan, ketika melihat awan, Nabi saw. bersabda,
Bila Anda perhatikan bagaimana
bumi diciptakan, Anda melihatnya sebagai ayat Tuhan yang luar biasa. Allah SWT
menciptakannya dengan terhampar. Menundukkkan ciptaan-Nya itu untuk
hamba-hamba-Nya, meletakkan rezeki, makanan, dan kehidupan mereka di sana. Dia
membuat jalan-jalan di sana agar manusia dapat berpindah-pindah untuk maslahat
mereka. Bumi itu dikokohkan dengan gunung-gunung dan menjadikannya sebagai
pasak yang menjaga agar bumi tidak mengguncangkan makhluk di atasnya. Dia
meluaskan sisi-sisinya, dan menjadikannya sebagai tempat berkumpul untuk
menampung mereka yang masih hidup di atas punggungnya, dan menampung mereka
yang telah mati di perutnya. Jadi, punggungnya adalah tempat tinggal bagi yang
hidup dan perutnya adalah tempat tinggal bagi yang telah mati. Sering sekali
Allah SWT menyebutkan bumi di dalam kitab-Nya dan menyeru para hamba agar
merenungkan penciptaannya. Allah SWT berfirman,
"Dan bumi itu Kami
hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)." (adz-Dzaariyaat: 48)
"Allahlah yang menjadikan
bumi tempat menetap bagi kamu." (Ghaafir: 64)
"Dialah Yang menjadikan bumi
sebagai hamparan bagimu." (al-Baqarah:
22)
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit,
bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi
bagaimana ia dihamparkan." (al-Ghaasyiyah:
17-20)
"Sesungguhnya
pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk
orang-orang yang beriman." (al-Jaatsiyah:
3)
Dan, masih banyak lagi ayat-ayat
lain. Lihatlah bumi yang mati, kaku, dan
tenang itu. Apabila Kami telah menurunkan air, maka ia tergerak, tergetar dan
tumbuh, meninggi, dan menghijau. Juga menumbuhkan tanaman yang
berpasang-pasangan dengan berbagai ragam, ukuran, bentuk, warna, dan manfaatnya.
Juga buah-buahan, obat-obatan, dan padang rumput bagi hewan juga burung.
Kemudian perhatikanlah bagaimana
bagian-bagian bumi yang berdampingan itu disirami air yang sama lalu tumbuhlah
pasangan tanaman yang berbeda-beda dengan bermacam-macam warna, bentuk, bau,
rasa, dan manfaat. Allah SWT berfirman,
"Dan di bumi ini terdapat
bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan
pohon korma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan
sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang berpikir." (ar-Ra'd:
4)
Tidak
lain itu adalah cipta Allah SWT Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tiada
Tuhan selain Dia. Kalaulah ini bukan salah satu ayat-Nya yang besar, tentu Dia
tidak menyitirnya kepada hamba-hamba-Nya dan mengajak mereka untuk
merenungkannya. Allah SWT berfirman,
"Dan kamu
lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah
bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang
indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang Haq dan
sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang,
tak ada keraguan padanya; dan bahwa Allah membangkitkan semua orang di dalam
kubur." (al-Hajj:
5-7)
Dalam ayat ini,
Anda melihat bahwa Tuhan menjadikan perenungan tentang ayat (bumi) ini dan
ayat-ayat sebelumnya (penciptaan janin) sebagai dalil yang mengantarkan kepada
pengetahuan tentang kelima natijah (hasil/kesimpulan) ini91.
Kemudian
perhatikanlah! Bagaimana Dia mengendalikan posisi bumi dengan gunung-gunung
yang kokoh menjulang, menancapkannya dengan kokoh, meninggikan dan
menjadikannya bagian bumi yang paling kuat/keras sehingga tidak lenyap oleh
pergantian waktu dan terpaan hujan atau angin silih berganti. Dia
menciptakannya secara luar biasa, memberikan manfaat, barang-barang tambang,
dan mata-mata air yang tidak terhitung. Kemudian memberi petunjuk manusia untuk
mengeluarkan barang-barang tambang itu dari dalamnya, dan memberi mereka ilham
bagaimana membuat uang logam darinya, perhiasan, pakaian, senjata, dan alat-alat
kehidupan yang beraneka macam. Kalau Dia tidak memberi petunjuk, tentu mereka
tidak mempunyai ilmu sedikit pun dan juga tidak ada kuasa bagi mereka.
Di antara
ayat-ayat-Nya yang menakjubkan adalah udara lembut yang terasa oleh indera
perasa saat bertiup, tapi tak terlihat wujudnya. la bergerak di antara langit
dan bumi, burung-burung terbang dan berenang di gelombang-gelombangnya
sebagaimana hewan-hewan laut berenang di air. Udara bergejolak saat bertiup
kencang seperti gelombang laut.
Apabila
menghendaki, Dia menggerakkannya dengan 'gerakan rahmat'; menjadikannya rahmat,
lembut, dan mendatangkan kegembiraan karena jadi tanda turunnya rahmat-Nya
(hujan). Angin menjadi pejantan yang membuahi awan sehingga mengandung air
seperti jantan yang membuahi betina sehingga hamil. Angin rahmat dinamakan denganmubassyirat,
nasyr, dzaariyat, mursalat, rukha *, lawaqih; sedang angin azab
dinamakan 'ashif, qashif(di laut), dan 'aqim, sharshar (di
darat).
Tapi
kalau mau, Dia menggerakkannya dengan 'gerakan azab'. Sehingga menghancurkan
siapa yang dikehendaki dengan angin itu dan mengirimkannya sebagai azab yang
pedih serta merusak segala apa yang dilaluinya.
Angin berbeda-beda
arah bertiupnya. Ada yang bertiup ke arah timur, barat, utara, dan selatan.
Angin-angin itu juga tidak sama manfaat dan pengaruhnya. Angin semilir dan
lembab/basah menyehatkan badan, hewan, dan tanaman. Ada pula angin yang
mengeringkan. Ada angin yang membuat mati atau sakit. Ada juga yang membuat
kuat, dan juga ada yang melemahkan. Oleh karena itu, Allah SWT mengabarkan
tentang angin rahmat dengan shighah jamak karena manfaatnya
bermacam-macam. Ada angin yang menggelorakan awan, membuahinya, membawanya, dan
angin yang membawa makanan bagi tetumbuhan. Karena arah bertiup dan tabiat
angin itu bermacam-macam, Dia menciptakan untuk setiap angin lawan
(penyeimbang) yang mengurangi kencang dan amukannya, dan mempertahankan
kelembutan dan rahmatnya. Jadi, angin rahmat itu banyak macamnya.
Adapun angin azab
hanya satu; diembuskan dengan satu cara untuk meng-hancurkan objek yang hendak
dimusnahkan. Karenanya, tidak ada angin lain menjadi penyeimbangnya. Angin ini
seperti serdadu yang besar, tak ada sesuatu pun yang melawannya. Dia
menghancurleburkan apa yang ditimpanya.
Perhatikanlah
hikmah Al-Qur'an ketika menyebut keterangan ini di darat. Adapun di laut, angin
rahmat disebutkan dengan kata tunggal seperti firman-Nya,
"Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan,
(berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan
meluncudah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan
angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. Dan
(apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa
mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan
mengikhlaskan ketaatannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata),
'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami
akan termasuk orang-orang yang bersyukur.'" (Yunus:
22)
Hikmahnya di sini
karena kapal hanya berjalan dengan satu angin yang datang dari satu arah.
Apabila banyak angin yang berlawanan datang menerpa perahu, tentu jalannya
tidak karuan arah.
Jadi, fungsi angin di laut berbeda
dengan fungsinya di darat. Karena yang diinginkan di laut, angin bertiup satu
arah saja, tidak dihalangi oleh sesuatu pun. Karena itulah, disebutkan dengan
kata tunggal, sedang di darat dipakai kata jamak.
Makhluk Tuhan ini memang lemah lembut. Sehingga, dapat digerakkan
dan dibobol oleh makhluk yang paling lemah sekalipun. Tapi, Allah SWT
memberikan makhluk lembut ini kekuatan dan kekerasan yang dapat menggoncangkan/
menggetarkan benda-benda cadas yang kuat, menggesernya dari tempatnya,
menghancurleburkan dan menerbangkannya. Lihat saja bila udara yang lembut itu
masuk dan memenuhi geriba (kantong air dari kulit) misalnya, lalu di
atasnya diletakkan benda yang berat, tentu kantong air yang sudah berisi kulit
itu tak bisa masuk ke dalam air. Padahal besi yang padat dan berat, jika diletakkan
di permukaan air akan tenggelam. Jadi, udara yang lembut ini tidak mau
ditundukkan (ditenggelamkan) oleh air, sedang benda yang kuat dan keras (besi)
dapat ditundukkan.
Dengan hikmah ini,
Allah SWT menahan kapal-kapal di atas permukaan air betapapun beratnya kapal
itu beserta muatannya. Demikian pula semua benda berlobang yang berisi udara
tidak akan tenggelam di air karena udara tidak mau menyelam ke dalam air. Jadi
kapal yang bermuatan penuh bergantung kepada udara itu. Perhatikan, bagaimana
perahu yang berat dan amat besar itu meminta perlindungan dan bergantung kepada
zat yang lembut dan ringan itu sehingga tidak tenggelam. Ini seperti orang yang
jatuh ke dalam sebuah jurang lalu bergelantungan kepada seorang yang kuat yang
tidak dapat terjatuh ke dalam jurang sehingga dengan bergelantungan itu dia
selamat. Subhanallah! Maha Agung Allah yang menggantungkan perahu yang
besar dan berat tersebut dengan udara yang lembut ini tanpa gantungan atau
ikatan yang terlihat.
Dan di antara
ayat-ayat-Nya adalah,
"Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi." (al-Baqarah:
164)
Bagaimana Tuhan mampu mencipta awan dari dalam angin? Angin itu
membuat awan bergolak dalam keadaan berkeping-keping lalu menyusun dan
meng-gabungkannya satu sama lain. Angin pun kemudian membuahinya. Hasilnya oleh
Allah SWT dinamakan dengan lawaqih. Kemudian Dia mengirimkan awan di
atas angin itu ke bumi yang membutuhkannya. Apabila telah berada di atasnya,
awan itu menumpahkan airnya. Pada saat air itu masih di angkasa, Allah SWT
mengirimkan angin yang menceraiberaikan air itu agar tidak membahayakan dan
menghancurkan apa yang ditimpanya. Apabila bumi telah basah dan memenuhi
hajatnya terhadap air, hujan berhenti- dan awan pergi. Dengan demikian, awan itu
adalah penyiram bumi, dibawa oleh angin. Dalam Sunan Tirmizi dan lainnya
disebutkan, ketika melihat awan, Nabi saw. bersabda,
"Ini adalah penyiram bumi yang diarahkan oleh Allah SWT
kepada suatu kaum yang tidak mensyukuri-Nya dan tak mengingat-Nya."
Awan
adalah pembawa rezeki manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Di sana tersimpan
persediaan makanan mereka. Apabila melihat awan, al-Hasan berkata, "Demi
Allah, di dalam awan ini tersedia rezeki kalian. Tetapi, kalian menghalanginya
dengan dosa dan kesalahan."
Dalam hadits shahih,
Nabi saw.bersabda,
"Ketika
seorang lelaki berada di tanah kosong sendirian, ia mendengar suara dari arah
awan, 'Siramlah kebun si Fulan!' Lelaki itu berjalan mengikuti awan tersebut
sampai tiba di sebuah kebun. Ketika awan itu berada di tengahnya, awan itu
menumpahkan airnya di sana. Tiba-tiba orang tersebut melihat ada seseorang yang
memegang sekop sedang mengatur aliran air. la bertanya, 'Siapa namamu?'
Jawabnya, 'Fulan.' Benar-benar nama yang didengarnya dari awan itu."(HR
Muslim)
Secara global, Anda
bisa merenungkan bagaimana awan yang tebal dan pekat itu berkumpul di cuaca
yang cerah tidak bermendung. Bagaimana Allah SWT mampu menciptakannya kapan pun
Dia mau. Renungkan pula, betapa awan yang lembut dan lunak itu membawa air yang
berat, memikulnya antara langit dan bumi sampai Allah SWT mengizinkan untuk
menurunkan air yang dibawanya, kemudian menumpahkannya dengan tetesan-tetesan.
Setiap tetesan
mempunyai takaran khusus yang sudah diatur dengan hikmah-Nya. Awan itu menyiramkan
airnya ke bumi, menumpahkannya dengan tetesan-tetesan yang terpisah-pisah,
tidak ada setetes pun yang bercampur dengan tetes yang lain, yang belakang
tidak mendahului turun dan yang depan tidak terlambat turunnya. Tak setetes air
pun dapat menyusul temannya sehingga bercampur jadi satu.
Setiap tetes itu turun di jalan yang telah
ditetapkan untuknya, tidak menyimpang; sampai menimpa bumi setetes demi
setetes. Setiap tetes telah ditentukan untuk bagian bumi tertentu, tidak akan
jatuh ke bagian bumi lainnya. Kalau seluruh makhluk bersatu untuk menciptakan
setetes saja dari sekian tetes itu, atau menghitung jumlah tetesan yang turun
dalam sesaat, tentu mereka tidak sanggup.
Perhatikanlah bagaimana Allah SWT
mengirimkannya sebagai rezeki bagi manusia, hewan, burung, dan semut. Jika
Allah SWT berkenan mengirim angin itu sebagai rezeki hewan X di daerah X di
kaki gunung X, air itu sampai kepadanya pada saat ia amat haus dan butuh.
Kemudian, bagaimana Allah SWT menyimpannya di tanah, lalu mengeluarkan dengannya
berbagai macam makanan dan obat. Ada tanaman yang berfungsi untuk bahan
makanan, ada yang berfungsi sebagai bumbu, ada yang beracun dan mematikan, ada
yang menjadi penawarnya, ada yang menyebabkan sakit, ada yang menjadi
penyembuhnya, ada yang mendinginkan, dan ada yang memanaskan. Ada pula tanaman
yang apabila masuk ke dalam lambung mengekang empedu kuning di dasar urat,
sementara tanaman yang lain bila masuk ke sana justeru berubah jadi empedu
kuning. Ada tanaman yang membersihkan dahak dan empedu hitam, sedang yang lain
berubah menjadi kedua cairan itu; yang ini membuat darah bergolak dan yang itu
menenangkannya; yang ini menidurkan dan yang itu menghalangi tidur; yang ini
membuat gembira dan yang ini membuat pikiran kalut; dan keajaiban-keajaiban tetumbuhan
lainnya. Hampir tak ada sehelai daun atau sebuah ranting dan buah yang tak
punya faedah. Cuma akal manusia tak sanggup mengetahui dan memerincinya.
Lihatlah pipa saluran air di dalam serat-serat yang lembut dan
lemah itu hampir tak terlihat oleh mata manusia kecuali bila dipincingkan.
Bagaimana serat-serat lembut seperti ini sanggup menyedot air dari tempatnya ke
atas, kemudian air itu berpencar di saluran-saluran itu sesuai dengan
penerimaan, luas, dan sempitnya. Saluran-saluran itu berpencar,
bercabang-cabang, dan mengecil sampai ukurannya tidak terlihat oleh mata.
Kemudian
perhatikan proses kehamilan pohon dan perubahannya seperti proses perubahan
janin yang tidak terlihat oleh mata! Anda menemukan hal yang amat ajaib. Maha
Besar Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam dan Pencipta Yang Terbaik. Kalau
sebelumnya Anda melihat pohon itu hanya sebatang kayu yang berdiri telanjang
tidak berpakaian, kini Allah SWT menutupinya dengan bunga-bunga, pakaian yang
paling indah. Kemudian pakaian itu ditanggalkan-Nya kembali, lalu Dia
membungkusnya dengan daun sebagai pakaian yang lebih kuat menempel daripada
yang pertama. Lalu memunculkan kandungannya dalam keadaan lemah setelah
mengeluarkan daunnya sebagai penutup dan baju untuk buah yang lemah itu agar
terlindung dari panas, dingin, dan hama. Kemudian mengirimkan makanan ke
buah-buah itu melalui serat dan saluran tersebut. Buah-buah itu menyerapnya
seperti bayi meminum air susu ibunya. Dia merawat dan menumbuhkannya sedikit
demi sedikit sampai dewasa dan sempurna. Sehingga, keluarlah buah yang lezat
dan empuk dari sebatang kayu yang kering itu.
Alangkah banyak tanda kekuasaan
Allah SWT dalam segala hal, baik yang terjangkau oleh indera manusia dan
terlihat oleh matanya maupun yang tidak terlihat. Umur tidak cukup untuk
mengetahui itu semua.
Sumber
: al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. 2004. Kunci
Kebahagiaan, diterjemahkan Abdul Hayyie al-Katami dkk. Jakarta: Akbar Media
Eka Sarana.
Label:
ARTIKEL




