Slider

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Habis Galau Terbitlah Tenang

Written By Unknown on Rabu, 04 Maret 2015 | 16.12

Kata galau jelas sudah menjadi kata yang sudah menjalar bebas di setiap lidah para makhluk-makhluk hidup (iya lah) . lalu apa yang harusnya dilakukan jika galau sudah menjadi-jadi dan virus-virusnya sudah semerbak?, dan apa penyebab galau? Serta apa dong obatnya?

Kawan, dalam Al-Quran pada pertengahan surah al-Ma’arij ayat 19 sampai 35 ditegaskan, bahwa “sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat galau lagi keluh kesah, kecuali sembilan golongan, yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat, orang-orang yang terhadap hartanya telah disediakan bagian tertentu (zakat) atau hak yang telah ditetapkan untuk orang-orang miskin, baik yang meminta atau pun yang tidak meminta, orang-orang yang meyakini hari kiamat, orang-orang yang takut terhadap azab Allah, orang-orang yang memelihara kemaluannya dari perbuatan keji, orang-orang yang mampu menjaga dan menunaikan amanat dan janji-janjinya, orang-orang yang memberikan kesaksiaannya dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah golongan penghuni surga lagi di muliakan”. (QS. Al-Ma’arij).

Galau ataupun gelisah bisa dialami dan dirasakan oleh setiap orang. Biasanya nih penyebab kondisi mentalitas ini yakni oleh faktor-faktor tertentu, di antaranya yakni ketidakberdayaan menanggung beban hidup, kegagalan, tekanan eksternal dan permasalahan berat lain yang  menerpanya (serem bangett dah ). Dengan sangat jelas ada efek dari kondisi ini biasanya ialah timbulnya gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan, terutama kesehatan jiwa (ihhhhh..). 

Sebuah kajian tentang kesehatan jiwa pernah menyebutkan, dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 persen atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi. (Republika.co.id)

Dalam kajian ilmiah pula, para pakar kedokteran pun mempunyai kesimpulan tersendiri yakni bahwa obat mujarab untuk mengobati penyakit gelisah ini yakni bermuara kepada keimanan (emang iman nomor one)

Coba kita artikan kata GALAU eaahh.. galau adalah kata yang sangat popular akhir-akhir ini terutama dikalangan muda generasi bangsa INDONESIA (hee). Semua telah terjangkit syndrom, sebuah kata yang menandakan seseorang tengah dilanda sebuah rasa kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, gandah gulana serta kesedihan pada jiwanya lalu pemikirannya. Herannya nihh bro and sist banyak orang yang bangga (pake banget) mengatakan dirinya sedang galau. Entah itu pejabat, pegawai, buruh, pengangguran, kaya, miskin, tua, muda, pelajar ataupun santri telah latah mengkampanyekan ‘galau’ di negeri kita ini bisa terlihat dalam dunia sosial media.

Keraguan akan senantiasa menghantui hidup manusia apabila pikirannya dibiarkan tergonjang-ganjing oleh keberadaan permasalahan hidup. Apalagi keyakinannya pada keberadaan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai penolong masih terjebak dalam ritual adat-istiadat semata, sehingga berhala menjadi tempat pengaduannya. Fenomena tersebut begitu jelas di depan mata kita dan terjadi pada sebagian besar umat Islam. Kesibukkan dan rutinitas menjebak mereka yang merasa ‘galau’ untuk mengambil langkah pragmatis dalam penyelesaian problema hidup.

Pada dasarnya, manusia adalah sosok makhluk yang lemah dan bergelimang dosa. Wajar ajah jika disebut sebagai makhluk yang paling sering dilanda kecemasan, apalagi ketika dihadapkan pada permasalahan hidup. Inilah fitrah bagi setiap insan yang memiliki akal pikiran dan tidak perlu dirisaukan karena Allah Subhanahu Wata’ala telah menyiapkan penawarnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat ke 28 yang artinya :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”

Orang yang senantiasa mengingat Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakannya, tentu akan memiliki dorongan positif pada diri dan jiwanya. Karena dengan mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi segala persoalan, dijamin pikirannya akan cerah dan bijak serta jiwanya diselimuti ketenangan akan datangnya bantuan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah merupakan janji Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketentraman-ketentraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

Orang yang galau itu orang yang tak mampu memahami bahwa masalah yang menimpanya adalah ujian yang dapat meningkatkan derajatnya disisi Allah. Bagai seseorang yang akan meraih gelar sarjana maka pasti akan diuji terlebih dahulu, jika ia mampu menyelesaikan beberapa tahapan ujian tersebut, maka ia akan lulus, namun jika gagal maka ia akan kembali melakukan perbaikan. Begitupun ujian dalam kehidupan ini, berat dan ringannya ujian di sesuaikan dengan kedudukannya dihadapan Allah. Jika ia adalah orang yang kuat agamanya, maka kuat pula ujian baginya. Bagai sebuah permisalan semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpanya (asiiikkk).

Tau gak Orang yang sedang galau itu orang yang tak mampu bersabar atas ujian dari Allah, merasa diri mereka sebagai orang yang paling menderita, mengumbar seakan-akan lemah tak berdaya. Padahal sesungguhnya musibah dan masalah adalah sarana untuk melatih kesabaran. Kita tidak akan dapat bertahan dalam sebuah kebaikan kecuali dengan bersabar. Kita tidak dapat mentaati Allah dan menjauhi kebatilan kecuali dengan sabar.

Oleh karena itu kita sebagai umat Islam sesungguhnya tidak perlu bersusah payah mencari jalan keluar bagi hati yang galau, jika setiap saat kita berdzikir dan berinteraksi dengan Al Qur’an maka rasa galau yang merasuki pikirann akan sirna. Oleh karena itu wajarlah jika para remaja atau pemuda masa kini dengan mudahnya terserang ‘virus’ galau, karena mereka jarang berdzikir atau mendengarkan dan membaca Al Qur’an, bahkan mereka lebih cenderung mengobati kegalauan lewat status curhat di Facebook dan Twitter atau bahkan friendster (aha jadul banget) mendengarkan musik dan nyanyian yang pada dasarnya semua itu merupakan sumber kegalauan yang cukup besar. Sehingga yang galau semakin galau, yang tidak galau menjadi galau juga (haha).

Dengan demikian, kita tak perlu lagi resah dan gelisah akan perasaan galau yang merajut kehidupan kita, marilah kita menjadi orang yang bijak dalam merespon realita, karena galau itu tak sekedar rasa, melainkan akan menjadi bagian dari warna-warni kehidupan jika kita mampu memaknainya dengan bijak. Olehnya itu marilah kita mengarungi hiruk pikuk kehidupan ini dengan menyandarkan setiap kegalauan kepada Sang Pemilik kehidupan, sebagaimana yang Allah telah sebutkan dalam firman-Nya: “orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS – ArRa’d 28).

Terkhusus umat Islam, jika benar-benar menjalankan dan mengindahkan semua syari’at yang telah dibawa Rasulullah, sudah barang tentu kejayaan umat peradaban akan kembali mewarnai dunia ini. Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa tidak ada istilah ‘galau’ pada umat manusia ketika aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala ditegakkan di atas bumi ini. Artinya, Islam adalah ajaran yang menentang ‘galau’ karena syari’at Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Nih kawan gue kasih tau bahwa ada Ayat-ayat penawar galau yakni :
Ayat pertama, berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kita sangat dituntut untuk memiliki semangat bekerja keras, namun apapun hasilnya harus diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana telah berfirman Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ (QS: al Insyirah: 7-8).

Dengan berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kita akan melakukan apapun dengan ketenangan dan kenyamanan bathin karena ada jaminan Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa memelihara ciptaan-Nya. Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya:

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).

Ayat kedua, bersabar karena Allah Subhanahu Wata’ala. Bersabar disini bukan berarti menunggu dan pasrah begitu saja, sabar dalam artian menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala sebagai yang terbaik dan senantiasa mempersiapkan diri untuk melakukan yang terbaik pula. Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat  200 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, supaya kamu beruntung.”

Ayat ketiga, berteguh hati dan fikiran. Flash-back terkait makna ‘galau’ jika dipahami keresahan hati, maka kita sebagai umat Islam harus memiliki keteguhan hati dan fikiran bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mengatur semesta alam ini. Jadi, tidak ada lagi kebimbangan mau jadi apa dan kemana masa depan kita, yang penting lakukanlah apa yang terbaik yang dapat dilakukan. Berikut Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya :

“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah Subhanahu Wata’ala) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)

Ayat keempat, sedih dilarang Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagai umat Islam, kita harus merasa beruntung dalam berbagai hal kehidupan. Karena Islam telah merangkum aturan hidup manusia hingga akhir zaman, dan tidak sepatutnya seorang hamba Allah Subhanahu Wata’ala bersedih kecuali sedih karena dosanya. Allah Subhanahu Wata’ala memotivasi kita dalam firman-Nya yang artinya:

 “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala bersama kami.” (QS. At Taubah: 40)

Ayat kelima, menghadap Allah Subhanahu Wata’ala. Adukanlah semua permasalahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena pasti Allah Subhanahu Wata’ala mempunyai semua solusinya. Sangat wajar jika kita menemui masalah dalam menjalani kehidupan ini, namun jangan pernah mundur atau takluk pada permaslahan itu. Allah Subhanahu Wata’ala sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah 5).

Jadi, umat islam harus senantiasa menkolerasikan antara kehidupan dengan berlandaskan pada al-qur’an agar selalu mendayuh melodi kehidupan dengan alunan syair ayat-ayat al-qur’an tersebut. Gak usah lagi deh ngomong ‘galau’ jika itu berimbas pada perilaku kalian yang kemudian akan menduakan Allah. Al-Quran dan As-Sunnah telah disempurnakan dalam merangkum aturan hidup manusia, sehingga tiada lagi problematika hidup jika kita bersandar pada sang pencipta kehidupan. Dan Islam pernah membuktikan dalam berabad-abad lamanya, yakni mampu memakmurkan kehidupan makhluk di jagat raya ini.

#Sonari Pauziah
  Agribisnis 2011
  Departemen Syiar 2014

Pertanian dalam Al Quran

Written By Unknown on Kamis, 01 Mei 2014 | 17.07

Oleh: Dewi Tri S.
(Departemen Humas dan Media Gamais 2014)

Tidak ada yang tidak penting dalam Islam. Dari bangun tidur kita baca doa, makan kita baca doa, semua sudah diatur. Apalagi pertanian yang kaitannya dengan kebutuhan pangan, sandang dan papan manusia.

“Siapa saja yang mempunyai lahan hendaknya diusahakan untuk bertani dan atau diserahkan ke saudaranya untuk bertani dan jangan disewakan”. (HR Bukhari)

Masih banyak orang menganggap bahwa bertani adalah pekerjaan yang kuno dan cenderung tidak keren. Bisa dibilang, petani seringkali dipandang sebelah mata. Mungkin mereka lupa, kalau bukan karena petani yang menanami lahan tidak akan ada beras yang mereka makan. Bertani memang ada sejak dulu, sesudah zaman berburu. Tapi pertanian takkan lapuk dimakan usia. Pada kenyataannya sektor pertanian masih menjadi sumber penghidupan masyarakat. Angka sensus terakhir 67% masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani.

Kebutuhan kita akan barang elektronik seperti mesin cuci, kulkas, kipas angin dan semacamnya bisa ditunda. Minggu depan, bulan depan, tahun depan. Tapi kebutuhan kita akan makan tidak bisa ditunda. Setiap hari kita harus makan. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah )
Pertanian merupakan media sumber pangan dan bermanfaat untuk orang lain.

Kalau kita masih berkutat di pertanian, kita juga sedang menanam sumber energi, devisa pengentas kemiskinan. Selain itu, pertanian juga berperan sebagai pelestari dan penjaga lingkungan. Kadang kita terlalu meng-underestimate kemampuan kita sendiri. Kita negara besar yang sedang berkembang dan akan terus maju. Kekayaan pertanian kita bagus dan memang diakui dunia. Komoditas tidak terlalu jelek, misalnya lada putih, sawit, nilam, karet, beras, kakao, lada hitam, kopi dan teh. Kita sebenarnya bisa swasembada beras, yang kejadian impor ilegal kemarin hanya permainan segelintir orang untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Pertanian sebagai Pelajaran bagi Orang Beriman

Keimanan seseorang diuji dari bagaimana sikapnya dalam menghadapi pengelolaan dan pengolahan pertanian. Karena semua di dunia ini hanya milik Allah. Apabila sewaktu-waktu Allah menurunkan musibah maka kita harus tetap beriman kepadaNya, begitu pula dalam hal apabila Allah menurunkan rezeki pada kita. Karena masih banyaknya masyarakat yang memiliki kepercayaan takhayul atau mistis dalam bidang pertanian. Seperti contoh memberikan sesajen agar hasil pertaniannya meningkat atau lancar. Jangan sampai kita terjerumus kepada hal-hal yang dapat melemahkan bahkan menghilangkan keimanan kita sebagai Muslim. Salah satu firman Allah dalam Al-Quran,

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (Surah Al-Baqarah : 155)

Pertanian sebagai Pekerjaan/Ibadah/Aktivitas yang Mulia

Petani adalah seseorang yang mengolah lahan pertanian. Dari hasil pertanian tersebut digunakan untuk memenuhi kehidupan makhluk hidup khususnya manusia, terutama dalam segi pangan. Sungguh mulianya pekerjaan petani. Tak terbayangkan apabia tak ada petani dari mana kita bisa makan dengan nikmat. Allah menugaskan manusia agar melindungi dan melestarikan alam ini. Salah satunya dengan mengolah lahan atau tanah yang kosong menjadi lahan pertanian yang bermanfaat bagi semua makhluk hidup. Dikatakan bagi semua makhluk hidup karena hewan dan serangga pun juga menikmati hasil pertanian. Sebagaimana yang telah Allah jelaskan pada ayat suci Al-Quran berikut,

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (Surah Al Baqarah : 22)

“(33) Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan. (34) Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, (35) Agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur.” (Surah Yasin : 33-35)


Pertanian sebagai Perumpamaan yang Baik

Bertani merupakan ibadah karena dalam bertani pun kita harus selalu berikhtiar, bertawakal, bersabar, dan bersyukur. Hal tersebut merupakan perumpamaan baik karena kita harus berikhtiar, yakni berusaha untuk menjaga dan mengolah pertanian dengan baik agar mendapatkan hasil pertanian yang sesuai dengan harapan. Berikhtiar saja pun tak cukup, dalam bertani kita pun harus bertawakal kepada Allah, karena semuan di dunia ini adalah milik Allah, Allah-lah yang menentukan segalanya, rezeki Allah-lah yang memberi. Bila Allah berkehendak demikian, maka demikianlah hasilnya.

Tak luput dalam bertani pun harus bersabar dan bersyukur. Bersabar karena hasil pertanian membutuhkan waktu yang panjang, tidak dengan waktu yang kilat sebagaimana kita memakan makanan yang berasal dari hasil pertanian tersebut. Dan contoh lainnya bersabar ketika mulai mengolah tanah, kemudian menanam bibit, lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Semua itu memerlukan kesabaran. Sabar manakala pertanian tersebut diserang hama dan penyakit, maka kita harus merawatnya dengan lebih intensif. Hama seperti binatang atau pun serangga yang memakan pertanian kita apabila kita ikhlas, hal itu dapat berupa pahala, karena sama halnya kita bersedekah untuk para hama itu. Kesabaran sangat diuji manakala hasil pertanian yang telah dirawat dengan penuh jerih payah tersebut dicuri sebagian, namun apabila kita ikhlas, maka pahalalah yang kita dapat. Ikhlas agar hasil curian tersebut sebagai sedekah baginya. Bersyukurlah atas segala rahmat dan rezeki yang Allah berikan. Karena didalam pertanian banyak ladang pahalanya. Tanpa pertanian maka kitakan sulit untuk memenuhi kebutuhan seperti sandang, pangan, dan bahkan papan. Allah pun berfirman dalam kitabnya, Al-Quran,

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS Ibrahim : 25-26)

"Tiada seorang Muslim yg bertani/berladang lalu hasil taninya dimakan burung atau manusia atau binatang melainkan bagi dirinya pahala bersedekah (HR. Bukhari)"

Pertanian sebagai Ilmu dan Teknologi

Perternakan, perikanan, dan kehutanan pun termasuk kategori pertanian. Dalam mengelolanya dibutuhkan ilmu pengetahuan. Hal ini agar mendapatkan hasil yang diharapkan. Maka, karena itu ilmu pengetahuan penting dalam pertanian. Bahkan Allah pun menaikkan derajat bagi penuntut ilmu, sebagaimana firman Allah dalam kitab Al-Quran,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah Al-Mujadilah Ayat 11)

Pentingnya menuntut ilmu dalam hadits banyak dijelaskan, contohnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
“Rasulullah salallaahu’alayhi wassallaam bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya menuju syurga.”

Untuk itu, bersyukurlah wahai anak Adam karena telah ditempatkan Allah di lingkungan pertanian, ya kampus hijau ini. Manfaatkanlah masamu dengan torehan sejarah indah untuk kejayaan pertanian Islam.

Tanah dan Awan

Written By Unknown on Rabu, 18 Desember 2013 | 03.48

Dua Cara dalam Memandang Bukti Kekuasaan Allah

Bila Anda perhatikan bagaimana bumi diciptakan, Anda melihatnya sebagai ayat Tuhan yang luar biasa. Allah SWT menciptakannya dengan terhampar. Menundukkkan ciptaan-Nya itu untuk hamba-hamba-Nya, meletakkan rezeki, makanan, dan kehidupan mereka di sana. Dia membuat jalan-jalan di sana agar manusia dapat berpindah-pindah untuk maslahat mereka. Bumi itu dikokohkan dengan gunung-gunung dan menjadikannya sebagai pasak yang menjaga agar bumi tidak mengguncangkan makhluk di atasnya. Dia meluaskan sisi-sisinya, dan menjadikannya sebagai tempat berkumpul untuk menampung mereka yang masih hidup di atas punggungnya, dan menampung mereka yang telah mati di perutnya. Jadi, punggungnya adalah tempat tinggal bagi yang hidup dan perutnya adalah tempat tinggal bagi yang telah mati. Sering sekali Allah SWT menyebutkan bumi di dalam kitab-Nya dan menyeru para hamba agar merenungkan penciptaannya. Allah SWT berfirman,

"Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)." (adz-Dzaariyaat: 48)

"Allahlah yang menjadikan bumi tempat menetap bagi kamu." (Ghaafir: 64)

"Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu." (al-Baqarah: 22)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan." (al-Ghaasyiyah: 17-20)

"Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman." (al-Jaatsiyah: 3)

            Dan, masih banyak lagi ayat-ayat lain.  Lihatlah bumi yang mati, kaku, dan tenang itu. Apabila Kami telah menurunkan air, maka ia tergerak, tergetar dan tumbuh, meninggi, dan menghijau. Juga menumbuhkan tanaman yang berpasang-pasangan dengan berbagai ragam, ukuran, bentuk, warna, dan manfaatnya. Juga buah-buahan, obat-obatan, dan padang rumput bagi hewan juga burung.
            Kemudian perhatikanlah bagaimana bagian-bagian bumi yang berdampingan itu disirami air yang sama lalu tumbuhlah pasangan tanaman yang berbeda-beda dengan bermacam-macam warna, bentuk, bau, rasa, dan manfaat. Allah SWT berfirman,

"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (ar-Ra'd: 4)

Tidak lain itu adalah cipta Allah SWT Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tiada Tuhan selain Dia. Kalaulah ini bukan salah satu ayat-Nya yang besar, tentu Dia tidak menyitirnya kepada hamba-hamba-Nya dan mengajak mereka untuk merenungkannya. Allah SWT berfirman,

"Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang Haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwa Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (al-Hajj: 5-7)

Dalam ayat ini, Anda melihat bahwa Tuhan menjadikan perenungan tentang ayat (bumi) ini dan ayat-ayat sebelumnya (penciptaan janin) sebagai dalil yang mengantarkan kepada pengetahuan tentang kelima natijah (hasil/kesimpulan) ini91.
Kemudian perhatikanlah! Bagaimana Dia mengendalikan posisi bumi dengan gunung-gunung yang kokoh menjulang, menancapkannya dengan kokoh, meninggikan dan menjadikannya bagian bumi yang paling kuat/keras sehingga tidak lenyap oleh pergantian waktu dan terpaan hujan atau angin silih berganti. Dia menciptakannya secara luar biasa, memberikan manfaat, barang-barang tambang, dan mata-mata air yang tidak terhitung. Kemudian memberi petunjuk manusia untuk mengeluarkan barang-barang tambang itu dari dalamnya, dan memberi mereka ilham bagaimana membuat uang logam darinya, perhiasan, pakaian, senjata, dan alat-alat kehidupan yang beraneka macam. Kalau Dia tidak memberi petunjuk, tentu mereka tidak mempunyai ilmu sedikit pun dan juga tidak ada kuasa bagi mereka.
Di antara ayat-ayat-Nya yang menakjubkan adalah udara lembut yang terasa oleh indera perasa saat bertiup, tapi tak terlihat wujudnya. la bergerak di antara langit dan bumi, burung-burung terbang dan berenang di gelombang-gelombangnya sebagaimana hewan-hewan laut berenang di air. Udara bergejolak saat bertiup kencang seperti gelombang laut.
            Apabila menghendaki, Dia menggerakkannya dengan 'gerakan rahmat'; menjadikannya rahmat, lembut, dan mendatangkan kegembiraan karena jadi tanda turunnya rahmat-Nya (hujan). Angin menjadi pejantan yang membuahi awan sehingga mengandung air seperti jantan yang membuahi betina sehingga hamil. Angin rahmat dinamakan denganmubassyirat, nasyr, dzaariyat, mursalat, rukha *, lawaqih; sedang angin azab dinamakan 'ashif, qashif(di laut), dan 'aqim, sharshar (di darat).
            Tapi kalau mau, Dia menggerakkannya dengan 'gerakan azab'. Sehingga menghancurkan siapa yang dikehendaki dengan angin itu dan mengirimkannya sebagai azab yang pedih serta merusak segala apa yang dilaluinya.
Angin berbeda-beda arah bertiupnya. Ada yang bertiup ke arah timur, barat, utara, dan selatan. Angin-angin itu juga tidak sama manfaat dan pengaruhnya. Angin semilir dan lembab/basah menyehatkan badan, hewan, dan tanaman. Ada pula angin yang mengeringkan. Ada angin yang membuat mati atau sakit. Ada juga yang membuat kuat, dan juga ada yang melemahkan. Oleh karena itu, Allah SWT mengabarkan tentang angin rahmat dengan shighah jamak karena manfaatnya bermacam-macam. Ada angin yang menggelorakan awan, membuahinya, membawanya, dan angin yang membawa makanan bagi tetumbuhan. Karena arah bertiup dan tabiat angin itu bermacam-macam, Dia menciptakan untuk setiap angin lawan (penyeimbang) yang mengurangi kencang dan amukannya, dan mempertahankan kelembutan dan rahmatnya. Jadi, angin rahmat itu banyak macamnya.
            Adapun angin azab hanya satu; diembuskan dengan satu cara untuk meng-hancurkan objek yang hendak dimusnahkan. Karenanya, tidak ada angin lain menjadi penyeimbangnya. Angin ini seperti serdadu yang besar, tak ada sesuatu pun yang melawannya. Dia menghancurleburkan apa yang ditimpanya.
            Perhatikanlah hikmah Al-Qur'an ketika menyebut keterangan ini di darat. Adapun di laut, angin rahmat disebutkan dengan kata tunggal seperti firman-Nya,

"Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncudah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.'" (Yunus: 22)

Hikmahnya di sini karena kapal hanya berjalan dengan satu angin yang datang dari satu arah. Apabila banyak angin yang berlawanan datang menerpa perahu, tentu jalannya tidak karuan arah.
            Jadi, fungsi angin di laut berbeda dengan fungsinya di darat. Karena yang diinginkan di laut, angin bertiup satu arah saja, tidak dihalangi oleh sesuatu pun. Karena itulah, disebutkan dengan kata tunggal, sedang di darat dipakai kata jamak.
Makhluk Tuhan ini memang lemah lembut. Sehingga, dapat digerakkan dan dibobol oleh makhluk yang paling lemah sekalipun. Tapi, Allah SWT memberikan makhluk lembut ini kekuatan dan kekerasan yang dapat menggoncangkan/ menggetarkan benda-benda cadas yang kuat, menggesernya dari tempatnya, menghancurleburkan dan menerbangkannya. Lihat saja bila udara yang lembut itu masuk dan memenuhi geriba (kantong air dari kulit) misalnya, lalu di atasnya diletakkan benda yang berat, tentu kantong air yang sudah berisi kulit itu tak bisa masuk ke dalam air. Padahal besi yang padat dan berat, jika diletakkan di permukaan air akan tenggelam. Jadi, udara yang lembut ini tidak mau ditundukkan (ditenggelamkan) oleh air, sedang benda yang kuat dan keras (besi) dapat ditundukkan.
Dengan hikmah ini, Allah SWT menahan kapal-kapal di atas permukaan air betapapun beratnya kapal itu beserta muatannya. Demikian pula semua benda berlobang yang berisi udara tidak akan tenggelam di air karena udara tidak mau menyelam ke dalam air. Jadi kapal yang bermuatan penuh bergantung kepada udara itu. Perhatikan, bagaimana perahu yang berat dan amat besar itu meminta perlindungan dan bergantung kepada zat yang lembut dan ringan itu sehingga tidak tenggelam. Ini seperti orang yang jatuh ke dalam sebuah jurang lalu bergelantungan kepada seorang yang kuat yang tidak dapat terjatuh ke dalam jurang sehingga dengan bergelantungan itu dia selamat. Subhanallah! Maha Agung Allah yang menggantungkan perahu yang besar dan berat tersebut dengan udara yang lembut ini tanpa gantungan atau ikatan yang terlihat.
Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah,

"Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi." (al-Baqarah: 164)

     Bagaimana Tuhan mampu mencipta awan dari dalam angin? Angin itu membuat awan bergolak dalam keadaan berkeping-keping lalu menyusun dan meng-gabungkannya satu sama lain. Angin pun kemudian membuahinya. Hasilnya oleh Allah SWT dinamakan dengan lawaqih. Kemudian Dia mengirimkan awan di atas angin itu ke bumi yang membutuhkannya. Apabila telah berada di atasnya, awan itu menumpahkan airnya. Pada saat air itu masih di angkasa, Allah SWT mengirimkan angin yang menceraiberaikan air itu agar tidak membahayakan dan menghancurkan apa yang ditimpanya. Apabila bumi telah basah dan memenuhi hajatnya terhadap air, hujan berhenti- dan awan pergi. Dengan demikian, awan itu adalah penyiram bumi, dibawa oleh angin. Dalam Sunan Tirmizi dan lainnya disebutkan, ketika melihat awan, Nabi saw. bersabda,

"Ini adalah penyiram bumi yang diarahkan oleh Allah SWT kepada suatu kaum yang tidak mensyukuri-Nya dan tak mengingat-Nya."

      Awan adalah pembawa rezeki manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Di sana tersimpan persediaan makanan mereka. Apabila melihat awan, al-Hasan berkata, "Demi Allah, di dalam awan ini tersedia rezeki kalian. Tetapi, kalian menghalanginya dengan dosa dan kesalahan."
Dalam hadits shahih, Nabi saw.bersabda,

"Ketika seorang lelaki berada di tanah kosong sendirian, ia mendengar suara dari arah awan, 'Siramlah kebun si Fulan!' Lelaki itu berjalan mengikuti awan tersebut sampai tiba di sebuah kebun. Ketika awan itu berada di tengahnya, awan itu menumpahkan airnya di sana. Tiba-tiba orang tersebut melihat ada seseorang yang memegang sekop sedang mengatur aliran air. la bertanya, 'Siapa namamu?' Jawabnya, 'Fulan.' Benar-benar nama yang didengarnya dari awan itu."(HR Muslim)

Secara global, Anda bisa merenungkan bagaimana awan yang tebal dan pekat itu berkumpul di cuaca yang cerah tidak bermendung. Bagaimana Allah SWT mampu menciptakannya kapan pun Dia mau. Renungkan pula, betapa awan yang lembut dan lunak itu membawa air yang berat, memikulnya antara langit dan bumi sampai Allah SWT mengizinkan untuk menurunkan air yang dibawanya, kemudian menumpahkannya dengan tetesan-tetesan.
Setiap tetesan mempunyai takaran khusus yang sudah diatur dengan hikmah-Nya. Awan itu menyiramkan airnya ke bumi, menumpahkannya dengan tetesan-tetesan yang terpisah-pisah, tidak ada setetes pun yang bercampur dengan tetes yang lain, yang belakang tidak mendahului turun dan yang depan tidak terlambat turunnya. Tak setetes air pun dapat menyusul temannya sehingga bercampur jadi satu.
     Setiap tetes itu turun di jalan yang telah ditetapkan untuknya, tidak menyimpang; sampai menimpa bumi setetes demi setetes. Setiap tetes telah ditentukan untuk bagian bumi tertentu, tidak akan jatuh ke bagian bumi lainnya. Kalau seluruh makhluk bersatu untuk menciptakan setetes saja dari sekian tetes itu, atau menghitung jumlah tetesan yang turun dalam sesaat, tentu mereka tidak sanggup.
            Perhatikanlah bagaimana Allah SWT mengirimkannya sebagai rezeki bagi manusia, hewan, burung, dan semut. Jika Allah SWT berkenan mengirim angin itu sebagai rezeki hewan X di daerah X di kaki gunung X, air itu sampai kepadanya pada saat ia amat haus dan butuh. Kemudian, bagaimana Allah SWT menyimpannya di tanah, lalu mengeluarkan dengannya berbagai macam makanan dan obat. Ada tanaman yang berfungsi untuk bahan makanan, ada yang berfungsi sebagai bumbu, ada yang beracun dan mematikan, ada yang menjadi penawarnya, ada yang menyebabkan sakit, ada yang menjadi penyembuhnya, ada yang mendinginkan, dan ada yang memanaskan. Ada pula tanaman yang apabila masuk ke dalam lambung mengekang empedu kuning di dasar urat, sementara tanaman yang lain bila masuk ke sana justeru berubah jadi empedu kuning. Ada tanaman yang membersihkan dahak dan empedu hitam, sedang yang lain berubah menjadi kedua cairan itu; yang ini membuat darah bergolak dan yang itu menenangkannya; yang ini menidurkan dan yang itu menghalangi tidur; yang ini membuat gembira dan yang ini membuat pikiran kalut; dan keajaiban-keajaiban tetumbuhan lainnya. Hampir tak ada sehelai daun atau sebuah ranting dan buah yang tak punya faedah. Cuma akal manusia tak sanggup mengetahui dan memerincinya.
Lihatlah pipa saluran air di dalam serat-serat yang lembut dan lemah itu hampir tak terlihat oleh mata manusia kecuali bila dipincingkan. Bagaimana serat-serat lembut seperti ini sanggup menyedot air dari tempatnya ke atas, kemudian air itu berpencar di saluran-saluran itu sesuai dengan penerimaan, luas, dan sempitnya. Saluran-saluran itu berpencar, bercabang-cabang, dan mengecil sampai ukurannya tidak terlihat oleh mata.
            Kemudian perhatikan proses kehamilan pohon dan perubahannya seperti proses perubahan janin yang tidak terlihat oleh mata! Anda menemukan hal yang amat ajaib. Maha Besar Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam dan Pencipta Yang Terbaik. Kalau sebelumnya Anda melihat pohon itu hanya sebatang kayu yang berdiri telanjang tidak berpakaian, kini Allah SWT menutupinya dengan bunga-bunga, pakaian yang paling indah. Kemudian pakaian itu ditanggalkan-Nya kembali, lalu Dia membungkusnya dengan daun sebagai pakaian yang lebih kuat menempel daripada yang pertama. Lalu memunculkan kandungannya dalam keadaan lemah setelah mengeluarkan daunnya sebagai penutup dan baju untuk buah yang lemah itu agar terlindung dari panas, dingin, dan hama. Kemudian mengirimkan makanan ke buah-buah itu melalui serat dan saluran tersebut. Buah-buah itu menyerapnya seperti bayi meminum air susu ibunya. Dia merawat dan menumbuhkannya sedikit demi sedikit sampai dewasa dan sempurna. Sehingga, keluarlah buah yang lezat dan empuk dari sebatang kayu yang kering itu.
            Alangkah banyak tanda kekuasaan Allah SWT dalam segala hal, baik yang terjangkau oleh indera manusia dan terlihat oleh matanya maupun yang tidak terlihat. Umur tidak cukup untuk mengetahui itu semua.


Sumber : al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. 2004. Kunci Kebahagiaan, diterjemahkan Abdul Hayyie al-Katami dkk. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Gamais Faperta UNSOED - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger