Slider

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Man Jadda Wajada: Totalitas Usaha dan Totalitas Kepasrahan

Written By Unknown on Sabtu, 22 November 2014 | 17.35

PURWOKERTO, GamaisNews—Kekuatan kita sebagai seorang muslim, terletak pada totalitas kepasrahan kepada Allah. Dan totalitas kepasrahan kepada Allah, yakni tawakal, terletak pada totalitas usaha.

Demikian ungkap Ustadz Hermawan memaknai lafadz man jadda wajada dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais, Jumat (10/10) di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed. “Tawakal bisa maksimal, jika usahanya juga maksimal,” tegasnya.

Lafadz man jadda wajada yang berarti “barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil”, hanya peribahasa. Meski demikian, Ustadz Hermawan mengatakan, setidaknya ini bisa menyemangati kita dan memandangnya dari sudut pandang sebagai seorang muslim.

“Maka untuk mengiringi semangat bersungguh-sungguh ini, kita sebagai muslim kan disuruh untuk bersungguh-sungguh dalam segala hal. Maka kita harus mengikutinya dengan tawakal kepada Allah SWT,” jelasnya.

Pernyataan itu berimplikasi bahwa sehebat-hebatnya dan secerdas-cerdasnya berusaha, namun ketetapan segala sesuatu tetap berada di tangan Allah SWT. Namun, bukan berarti manusia hanya pasrah menunggu hasil tanpa melakukan usaha. Sebab, dalam Q.S. Ar-Ra'd: 11, Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.”

Karena itu, Ustadz Hermawan melanjutkan, harus dikaitkan antara seluruh usaha dengan takdir atau dengan keputusan Allah SWT. Keduanya, harus berjalan selaras, tidak ada tawakal tanpa usaha dan jika tidak ada usaha berarti tidak tawakal.

Patut menjadi catatan, bahwa tidak disebut tawakal jika hanya berdoa kepada Allah SWT dengan pasrah yang tanpa diiringi usaha. “Itu namanya menuntut Allah memberikan sesuatu yang tidak kita usahakan,” ujarnya.

Untuk bertawakal kepada Allah SWT, maka tidak lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong diri, menyemangati diri, memaksimalkan diri untuk segera berbuat, segera beramal, segera melakukan sesuatu dengan total agar kemudian bisa bertawakal kepada Allah.

“Ini adalah dua hal yang harus senantiasa kita pegang, usaha yang keras di satu sisi, dan di sisi yang lain juga kepasrahan yang penuh kepada Allah,” Ustadz Hermawan menegaskan.

Keteladanan Syekh Ahmad Yasin

Sebuah kisah luar biasa berkaitan dengan man jadda wajada datang dari seorang Syekh Ahmad Yasin. Ia adalah seorang tokoh perjuangan Palestina yang kemudian harus berhadapan dengan helicopter APACE milik Israel. Ia lumpuh, sudah tua dan berada di atas kursi roda. Namun, untuk menghadapinya, Israel memerlukan banyak tentara dan helicopter.

Saat berusia 16 tahun, sebagaimana anak-anak Palestina pada umumnya, Syekh Ahmad Yasin sudah mempunyai semangat luar biasa untuk membebaskan tanah airnya dari penjajahan zionis Israel. Ia saat itu belum lumpuh.

Semangat dan kesiapan Syekh Ahmad Yasin untuk berjuang melawan penjajahan Israel pun harus diuji, yakni pada saat ia hendak menjadi bagian dari perjuangan Brigade Izzudin al Qosam. Ia beserta anak-anak Palestina lainnya pun mencoba menguji sejauh mana kesiapan dan kekuatan mereka melalui sebuah permainan yang disebut head stand, berdiri dengan menggunakan kepala.

“Untuk menunjukkan bahwa mereka kuat dan siap mendaftar Brigade Izzudin al Qosam,” ujar stadz Hermawan menjelaskan. “Karena di samping hafalan Quran-nya harus banyak, kekuatan fisik mereka juga harus bagus.”

Syekh Ahmad Yasin saat itu menjadi peserta lomba head stand yang harus adu kuat dengan anak-anak Palestina lainnya. Ia yang memang mempunyai tekad kuat untuk siap berjuang, mampu bertahan lebih lama dalam kondisi head stand dibanding yang lain.

Namun, selang beberapa waktu, ia mengalami hilang kesadaran. Allah memberikan ujian kepadanya, yakni kaki yang tidak bisa digerakkan. Itu menjadi awal mula kelumpuhannya. Akan tetapi, yang terjadi adalah ujian, tekad, semangat, cita-cita untuk membebaskan Palestina itu tidak pernah padam dari diri Ahmad Yasin. Ahmad Yasin kemudian memilih untuk memperdalam ilmu agama dan kemudian menjadi guru sekolah dasar dalam kondisinya yang lumpuh.

Tapi, dari orang tua yang lumpuh ini kemudian anak-anak Palestina terbakar semangatnya. Jika Ahmad Yasin menyampaikan materi, menyampaikan hal-hal yang benar tentang agama, tentang akhlak atau tentang apapun maka murid-muridnya itu begitu bersemangat untuk melaksanakannya.

Padahal, Ahmad Yasin bukanlah seorang orator yang handal, apalagi sampai berekspresi, gerakannya sangat terbatas. Tapi, ruh yang mewarnai setiap ucapannya, membuat anak-anak Palestina yang dibawah asuhannya menjadi bersemangat.

“Jadi, dalam kondisi yang lumpuh seperti itu, ternyata mimpi, harapan dan cita-cita tetap dijaga oleh seorang Ahmad Yasin. Itu menginspirasi banyak orang, kemudian pemuda-pemuda Palestina menjadi luar biasa dan akhirnya melalui Hamas, melalui Brigadir Izzudin al Qasam, mereka melakukan perlawanan yang tidak pernah berhenti sampai sekarang,” ujar Ustadz Hermawan.

Kepasrahan penuh kepada Allah setelah berusaha secara total menjadi penting. Sebab itu menunjukkan, seberapa besar keikhlasan akan hasil apapun yang diperoleh setelah melakukan segala usaha. Ada saat dimana Allah memberikan sesuatu justru setelah manusia mengikhlaskannya. Seolah Allah sedang menegur, permintaan tolong kepada selain-Nya tak ada artinya. “Untuk membuktikan bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas segala hal,” Ustadz Hermawan menegaskan. (RDL)

Qurban Tebar Cinta

Written By Unknown on Kamis, 09 Oktober 2014 | 14.44

PURWOKERTO, GamaisNews—Banteran, 5 oktober 2014 Gamais Unsoed kembali gelar agenda sosial yakni Qurban sebagai wujud tebar cinta terhadap sesama muslim.

Tahun ke tiga Gamais mengadakan agenda Qurban di Desa Banteran, dan alhamdulillah tahun ini mendapat 4 hewan hasil kepercayaan masyarakat kampus. Dimulai dari mahasiswa, alumni, donatur dan saudara-saudara muslim di luar Unsoed.

Kurang lebih satu bulan panitia menggalang dana mulai dari menjual stiker qurban, menyebar silinder infaq, menyebar pamflet-pamflet terhadap donatur  dan alhamdulillah terkumpul Rp 4.118.300,00. Dana tersebut kita alokasikan untuk membeli 2 ekor kambing dengan harga masing-masing kambing Rp 2.000.000,00  lalu sisanya Rp 118.300 kita masukan kedalam infaq Gamais untuk agenda sosial yang lain. Adapun dari mahasiswa dan saudara muslim di luar kampus yang menitipkan uang untuk qurban sendiri dan memberikan kepercayaan terhadap Gamais untuk mengelolanya.

Antusias masyarakat Desa Banteran dan kebahagiaan yang muncul inilah tujuan kita, menebar cinta. Karena  Allah memberikan amanah untuk mengelola kehidupan kepada manusia dan untuk menjemputnya harus didasari niat dan orientasi cinta yang tulus. Salah satu usaha napak tilas untuk mengukuhkan cinta kita kepada Allah adalah melalui qurban dengan segala dimensi filosofisnya, dan cermin aktor yang qurbannya diterima karena ketulusannya adalah Nabi Ibrahim,Siti Hajar, Ismail  ketiga aktor tersebut telah teruji dalam imannya.

Sahara gersang dan tandus kian memotivasi kegigihan Nabi Ibrahim dalam berujang dan menjadikan Siti Hajar menjadi wanita solihah kemudian melahirkan pemuda tangguh sepanjang masa yang dikenal dengan nama Ismail.

" Tiada suatu amal bagi anak adan yang lebih Allah cintai pada hari Idul Adha kecuali dengan menumpakan darah (berqurban)" (H.R Tirmidzi dari Aisyah)

Daging atau darah bintang apa pun yang disembelih dengan menyebut nama Allah itu tidak ada nilainya dihadapan Allah jika amalan tersebut tidak dilakukan karena Allah. Di sinilah, faktor-faktor pentingnya adalah niat baik dan keikhlasan kepada Allah saat menjalankan suatu perbuatan atau peribadatan kepada Allah. Karena itu, seorang manusia tidak akan meningkat kemuliaannya di mata Allah hanya karena amal, ibadah, sikap, dan kata-kata baiknya.

Tentu saja semua itu adalah perbuatan yang harus dilakukan seorang muslim sepanjang hidup mereka untuk mendapatkan balasan yang besar di hari pembalasan. Akan tetapi, faktor terpenting yang harus diperhatikan saat memenuhi semua perbuatan itu adalah tingkat kedekatan yang dirasakan seseorang dengan Allah.Yang penting bukanlah banyaknya perbuatan yang kita lakukan, melainkan bagaimana seseorang berpaling kepada Allah dengan kebersihan dan keikhlasan hati. (kajian Idul Adha Masjid Baiturrahman-Banteran)

Semoga Gamais selalu menebar cinta menuju cinta-Nya.
Jazakumullah.
(DG & SP)

Berkolaborasi dengan Lazis Mafaza, Gamais Adakan Khitanan Massal

Written By Unknown on Sabtu, 21 Juni 2014 | 00.11

PURWOKERTO, GamaisNews—Gamais merupakan unit kegiatan mahasiswa kerohanian Islam Fakultas Pertanian Unsoed. Minggu, 15 juni 2014 menjadi hari sejarah bagi Gamais karena ini kali pertama mengadakan khitanan massal yang luar biasa, acara bisa berjalan dengan maksimal dengan bantuan banyak pihak. Departemen Syiar Gamais berkolaborasi dengan Lazis Mafaza dalam penyelenggaraan acara ini. Tema yang diusung yakni “Cinta Generasi Sholeh dan Sehat melalui Berbagi”, Merupakan wujud syiar dan kepedulian Gamais terhadap bakal generasi penerus dakwah.

Jumlah peserta terdaftar yakni 57 peserta yang berasal dari berbagai desa sekitar banyumas. Antusias yang tinggi dari warga dan peserta menjadi modal kami dalam menyelenggarakan acara ini, pendopo PKM pun dipenuhi dengan kegembiraan dan padatnya kendaraan orang tua atau wali dari peserta yang in syaa allah berkah dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.

Pembukaan acara khitanan dimulai pukul 08.20 WIB di pendopo PKM Unsoed diisi dengan sambutan-sambutan dan pembacaan ayat suci al-quran serta dilanjut dengan simbolis pembukaan acara khitanan massal dengan gunting pita oleh perwakilan Lazis Mafaza yakni Bapak Syarif dengan bacaan basmallah acara khitanan massal dibuka, diikuti dengan bunyi ambulance dan diringi iring-iringan peserta dengan mengendarai mobil menuju klinik Mafaza untuk dilanjut acara hiburan dan dikhitan.

Acara yang diarahkan oleh Lasika Fatah sebagai koordinator lapangan mampu  menyulap kawasan Karangwangkal dan Grendeng heboh dan ramai dengan teriakan semangat dari peserta khitan massal. Menurutnya, ini program perdana Departement Syiar Gamais yang bekerjasama dengan Lazis Mafaza dalam  melejitkan syiar Islam, maka kami Gamais harus mampu bekerjasama dengan baik dan mengikuti ritme kerja dari  lembaga yang bersangkutan serta menunjukkan  totalitas kita sebagai kader dakwah.

Peserta khitanan massal menerima fasilitas yang memadai yakni pemberian baju koko, peci, sarung dan santunan serta pengobatan gratis bagi peserta yang ingin control setelah  khitan. Berbagai ekspresi peserta tergambar ketika mereka dikhitan dan setelah khitan. Ada yang menangis,  ketakutan, cengengesan, berani dan berbagai ekspresi lainnya hal itu lumrah terjadi.

Selain itu, bagi peserta yang menunggu antrian khitan tidak jenuh karena mereka menikmati motivasi dan hiburan oleh team acara. Sang motivator menanyakan cita-cita setiap peserta dan syarat mewujudkannya yakni, “Syarat buat bisa jadi polisi, pilot, guru, bahkan presiden itu satu kuncinya, yaitu harus di? SUNAT (teriakan peserta khitan dengan menggempalkan tangan keatas). Dan manfaat dikhitan  itu tiada lain agar kita tidak ke? Kejepit (resleting) dan  kalo udah dikhitan  itu rasanya? plong.” Ujar  mas Ahmad dalam  memberikan  motivasinya.


Satu  persatu  peserta dikhitan hingga pukul 13.30 WIB acara berakhir ditutup oleh  MC.  Adapun ungkapan dan harapan dari salah satu wali peserta,“Alhamdulillah dengan adanya khitanan massal kami sangat terbantu dalam segalanya, bagi kami yang kurang mampu terasa lebih ringan, fasilitas yang disediakan sudah memadai. Semoga Lazis Mafaza dan Gamais tetap selalu bermanfaat dan berbagi bagi umat dan tetap berkarya fisabilillah, serta kami berharap Gamais dapat berbuat yang lebih baik lagi untuk meningkatkan karyanya dan mengadakan  kegiatan didaerah kami yang tertinggal yaitu Tanggeran Somagede-Banyumas.” (AY)

Bagian dari Keimanan, In Sya Allah: Berharap Penuh, Pasrah Sepenuhnya

Written By Unknown on Sabtu, 31 Mei 2014 | 00.07

PURWOKERTO, GamaisNews—Lafad in sya Allah merupakan bagian dari keimanan. Ini sebab, syahadat kita, keyakinan kita kepada Allah swt memunculkan dua hal, yaitu raja’ atau harapan kepada Allah, dan khauf atau rasa takut yang membuat kita sadar sepenuhnya bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa seizin Allah.

“Berharap penuh kepada Allah, tapi juga pasrah sepenuhnya,” ujar Ustadz Hermawan memaknai lafadz in sya Allah, dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais, Rabu (7/5) di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed.

Munculnya raja’ dan khauf dalam lafad in sya Allah merupakan konsekuensi dari syahadat. Keduanya, adalah bukti keimanan kita kepada Allah. Sebab, pada dasarnya ajaran keimanan kita kepada Allah memunculkan adanya sikap harap dan takut, yaitu raja’ dan khauf.

Ustadz Hermawan mengatakan, adanya raja’ dan khauf  dalam ajaran Islam dibuktikan dengan kandungan isi ayat-ayat al-Qur’an yang kadang-kadang menceritakan indahnya surga secara detail. Namun, al-Qur’an juga memberikan gambaran soal siksa neraka dan hal-hal yang berhubungan dengannya. “Agar manusia bisa memilih berharap surga, dan kalau mau melakukan dosa, ia takut sama neraka,” kata dia.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap raja’ dan khauf ini juga berkaitan dengan hal-hal keduniawian. Sikap raja’ memunculkan optimisme bahwa segala sesuatu tak ada yang tak mungkin sepanjang Allah mengabulkan. Karena itu, sikap raja’ ini memunculkan harapan kepada Allah.

Di sisi lain, iman kita juga memunculkan sebuah sikap khauf. Sikap khauf ini, menimbulkan kesadaran bahwa segala sesuatu tidak mungkin akan terjadi kecuali dengan seizin Allah. Karena itu, sikap raja’ dan khauf ini merupakan bagian dari seni keberimanan kepada Allah. “Sehingga indah sekali sebenarnya kalimat in sya Allah itu,” ujar Ustadz Hermawan.

Konteks keimanan dalam lafad in sya Allah sangat besar. Kaitannya dengan sikap raja’ dan khauf, konsep keduanya memunculkan sikap tawakal. Seperti diketahui, tawakal adalah menetapkan dan berserah diri kepada Allah swt atas semua kejadian atau hasil yang diterimanya dengan keyakinan bahwa Allah swt yang memiliki kehendak terhadap semua makhluk-Nya. Dengan pengertian itu, maka sangat jelas keterkaitan antara raja’-khauf dan tawakal.

Dikatakan Ustad Hermawan, menjadi dosa jika saat mengatakan in sya Allah, tidak diiringi dengan niat untuk melaksanakannya. “Kalau hati kita gak yakin, jangan bilang,’in sya Allah bisa’,” katanya.

Namun, lanjut dia, tidak menjadi masalah jika pada saat mengucapkan in sya Allah, niatnya benar-benar mau berusaha, sungguh-sungguh karena Allah, dan sudah terbayang betapa beratnya usaha yang harus kita lakukan untuk mewujudkan. “Dan itu sudah kita rencanakan dalam pikiran kita,” ujar Ustadz Hermawan. “Kalau sudah usaha tapi gak tercapai, itu gak papa,” tambah dia.

Ustadz hermawan mencontohkan, meski IPK sekarang 2,5, boleh berharap kelak menjadi 3,5. Namun, kata dia, tentu harus diiringi dengan usaha. “Kalau memang cita-cita kita besar, maka keringat kita juga harus banyak,” ujarnya.

“Jadi ini adalah iman, dan usaha itu bagian dari iman. Kita percaya dengan Allah, karena kita percaya Allah yang memutuskan, maka seperti apapun, kita berusaha. Kita berusaha, karena kita yakin kepada Allah.” lanjutnya.

Sebab Allah swt berfirman,

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Makna in sya Allah yang sebenarnya, kata Ustadz Hermawan, adalah menggerakkan. Ketika mengucapkan lafad in sya Allah, berarti ada keyakinan dan kepasrahan kepada Allah, kemudian berusaha agar Allah mewujudkannya. “Kita yakin, sangat yakin, tapi keyakinan itu kita kembalikan kepada Allah swt,” ucapnya. “Maka, in sya Allah itu adalah kalimat yang mendorong kita sampai ke limit batas kemampuan kita,” lanjutnya.

Ibroh untuk manusia

Lafad in sya Allah dalam al-Qur’an, pertama kali bersamaan dengan turunnya QS. Al-Kahfi: 23-24,

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi", kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah’.”

Ayat di atas adalah teguran kepada Rasulullah saw yang saat itu mendapat pertanyaan dari seorang sahabat soal kisah Ashabul kahfi. Rasulullah saw saat itu tak sanggup memberi jawaban pasti. Tanpa menyebut in sya Allah, beliau berkata kepada sahabat yang bertanya, "Jawabannya akan kuberikan besok." Padahal, maksud Rasulullah menjawab itu adalah ‘nanti in sya Allah wahyu akan turun’.

Biasanya pada saat-saat seperti demikian, keesokannya turun wahyu sebagai jawaban. Keesokan harinya, fajar telah menyingsing menyambut mentari terbit di ufuk timur. Sang surya terus menyemai panas di atas kepala sehingga dzuhur. Namun, wahyu dari Sang Khaliq tak kunjung turun memberikan jawab. Akhirnya sore semakin tinggi. Senjapun memerah mengantar kegelapan malam. Berhari-hari Rasulullah saw menantikan wahyu itu. Lewat lima belas hari turunlah wahyu.

Ibroh yang dapat diambil dari peristiwa di atas adalah agar tidak menjanjikan sesuatu, memastikan sesuatu tanpa mengucapkan in sya Allah. “Karena sebenarnya pengetahuan manusia itu sangat terbatas,” ujar Ustadz Hermawan.

Lebih jauh, Ustadz Hermawan menambahkan, jika orang yang tingkat keimanannya selevel Rasulullah saja ditegur Allah saat tidak mengucapkan in sya Allah, kita jangan berani-berani. Ini sebab, seoptimis-optimisnya kita, semua adalah ketetapan Allah. “Tidak bisa kita memastikan,” tuturnya.

Bukan untuk melegitimasi hal-hal yang dilarang

Lafad in sya Allah sering kali disalahartikan, salah satunya sebagai bentuk penolakan secara halus. Padahal, lafad in sya Allah adalah manifestasi dari keimanan. Ustadz Hermawan menegaskan, jika mengatakan in sya Allah atas suatu janji, maka menjadi keharusan untuk memenuhi apa yang dijanjikan itu. “Kalau kita ngomong in sya Allah maksudnya ya ‘iya’,” ujarnya. “Jangan sampe sekali-kali kita mengucapkan insya Allah untuk mengingkari,” tambahnya.

Untuk itu, ia menghimbau untuk hanya memakai lafad in sya Allah terhadap suatu hal yang sudah jelas kepastiannya. “Jangan menjanjikan sesuatu yang kepastiannya tak jelas,” tegasnya.

Di sisi lain, tidak pula diperbolehkan menggunakan lafad in sya Allah guna melegitimasi hal-hal yang dilarang Allah. Ustadz Hermawan mencontohkan, misalnya digunakan untuk melegitimasi kesombongan. “Kalau masalah ganteng mah, in sya Allah saya,” ujarnya, yang diikuti gelak tawa peserta YUMI. (RDL)

Hadirnya Gamais Picu Semangat Belajar Anak-Anak TPA Desa Banteran

Written By Unknown on Minggu, 20 April 2014 | 10.43

PURWOKERTO, GamaisNews—Kontribusi Gamais di desa binaannya, Desa Banteran, semakin terlihat hasilnya. Tokoh masyarakat Desa Banteran, Nurhamid mengatakan, selain memberikan wawasan keislaman, hadirnya Gamais mampu memicu semangat belajar anak-anak TPA Desa Banteran. 

Kesadaran akan pentingnya pendidikan menjadi faktor utama pemicu semangat belajar anak-anak TPA Desa Banteran. Dikatakan Nurhamid, usia mereka yang sebagian besar berada pada jenjang pendidikan SD/SMP menyebabkan mereka masih memerlukan motivasi belajar dari orang-orang yang terbiasa dengan pendidikan.

“Gamais dapat memicu semangat belajar anak-anak TPA karena mereka (anak-anak TPA-red.) masih membutuhkan motivasi dari orang-orang yang terbiasa dengan pendidikan,” ujar Nurhamid dalam sambutannya pada acara Opening TPA Binaan Gamais, Minggu (13/4). 

Anak-anak TPA Desa Banteran, kata Nurhamid, salut dengan Gamais karena mereka berpikiran kakak-kakak Gamais ada yang lebih pandai.

Sementara itu, Nurhamid mengeluhkan minimnya pengajar di TPA Desa Banteran. Minimnya pengajar mengharuskan diterapkannya sistem rolling. “Pengajarnya cuma dua orang, makanya harus sip-sipan,” ujarnya. Itu pun, lanjut Nurhamid, hanya mengajar pengetahuan agama.

Oleh karena itu, ia berharap, rencana Gamais untuk mengajar tidak hanya pengetahuan agama tapi juga pengetahuan umum dapat terlaksana. "Sangat bersyukur sekali kalau itu terlaksana," ungkapnya. (RDL)

Bukti Kesempurnaan Islam, Hal-Hal Kecil pun Diatur

Written By Unknown on Rabu, 09 April 2014 | 08.55

PURWOKERTO, GamaisNews—Islam itu sempurna, hal-hal kecil pun diatur. Merupakan bukti kesempurnaan Islam adalah diaturnya adab saat bersin, menguap dan sendawa. Jika bersin, ucapkan hamdalah. Jika menguap atau bersendawa, tahan semampunya. Demikian disampaikan Ustadz Tri dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed, Kamis (27/3).

Ustadz Tri mengatakan, jika seorang muslim bersin mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka semua muslim yang mendengarkan wajib mengucapkan ‘Yarhamukallah’. Kemudian, muslim yang bersin menjawabnya ‘Yahdikumullahu wa yushlihu balakum’. Pernyataannya ini, merupakan penjelasan dari hadits berikut.

Rasulullah saw bersabda: "Jika seseorang di antaramu bersin, maka hendaklah mengucapkan, ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah saudaranya mengucapkan, ‘Yarhamukallah’, dan jika saudaranya telah mengucapkan, ‘Yarhamukallah’ maka hendaklah ia membalas, ‘Yahdikumullahu wa yushlihu balakum’ ". (HR. Bukhari)

Dikatakan Ustadz Tri, ucapan hamdalah saat bersin merupakan bentuk ibadah dalam rasa syukur. Sebab, bersin itu menyehatkan. Bersin merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan debu-debu, kotoran dan mikroba yang terjaring bulu-bulu hidung. Selain itu, bersin menyebabkan sesama muslim saling mendoakan. “Itu mengapa bersin dicintai Allah,” ujarnya. Sebagaimana tercantum dalam hadits berikut.

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdullillah’). Dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya… “(HR. Bukhari)

Soal adab saat bersin, Ustadz Tri mengutip hadits riwayat Tirmidzi dan Abu Daud. Bahwa saat bersin, Rasulullah saw menutupi wajahnya dengan tangan dan merendahkan suara. “Menutup mulut dan hidung dengan tangan, rendahkan suaranya dan jangan dihadapkan ke temennya ya…, hujan lokal,” katanya, bergurau.

Bahkan, para ulama sepakat, bersin saat shalat pun boleh mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Namun demikian, bagi yang mendengarkan tidak wajib menjawabnya. Demikian pun, saat khutbah Jum’at, hanya yang bersin yang mengucapkan ‘Alhamdulillah’. “Karena saat khutbah Jum’at, fokus mendengarkan khotib,” tuturnya.

Sementara itu, jika orang yang bersin tidak mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka yang mendengarkan tidak boleh mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Begitupun, tidak pula diperbolehkan mengucapkan ‘Yarhamukallah’. “Maka sunahnya, mengucapkan ‘Alhamdulillah’ itu dengan disuarakan. Begitu pun dengan yang mengucapkan ‘Yarhamukallah,” ujar Ustadz Tri.

Namun demikian, Ustadz Tri menegaskan, anjuran mengucapkan ‘Alhamdulillah’ saat bersin tidak berlaku saat berada di toilet. Ia mengatakan, itu dilarang. Hal ini terkait dengan larangan menyebut nama Allah saat berada di toilet.

Berbeda dengan saat bersin, tidak ada dzikir khusus pada saat menguap. Ustadz Tri mengatakan, cukup dengan menahan semampunya. Hal ini tercantum dalam hadits berikut.

“…Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Membaca ta’awudz saat menguap hanyalah pendapat bahwa jika menguap memasukkan setan, maka mengeluarkannya dengan membaca ta’awudz. Namun demikian, anjuran membaca ta’awudz saat menguap menurut sebagian ulama’ dan kebanyakan masyarakat, itu berdalil pada firman Allah,

“Apabila setan mengganggumu, maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

Sementara Nabi saw bersabda, menguap itu dari setan. “Pendalilan semacam itu tidak pada tempatnya, karena memang Rasulullah tidak menganjurkan (untuk membaca ta’awudz saat menguap),” ujar Ustadz Tri, mengutip pendapat Syekh Sulaiman Al Majid.

Mengenai menguap saat shalat, Ustadz Tri mengutip pendapat dari Imam Malik ra sebagai berikut.

“Mulutnya ditutup dengan tangannya ketika shalat sampai selesai menguap. Jika menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, kalau dia memahami apa yang dibaca, maka hukumnya makruh namun sudah mencukupi  baginya (bacaan dia). Tetapi jika tidak memahaminya, maka dia harus mengulangi bacaannya, dan jika tidak mengulanginya, -kalau bacaan tersebut adalah surat Al-Fatihah-, maka itu tidak mencukupi (tidak sah shalatnya), dan kalau selain Al-Fatihah, maka sudah mencukupinya (shalatnya sah).”

Lebih lanjut tentang menguap saat shalat, mengutip pendapat Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, Ustadz Tri mengatakan,


“Dan di antara yang diperintahkan bagi orang yang menguap adalah jika sedang shalat, maka dia harus menghentikan bacaannya sampai menguapnya selesai, agar bacaannya tidak berubah.  Disampaikan oleh Syekh Sulaiman Al Majid, bahwa tidak ada dalil soal doa atau dzikir yang dibaca saat menguap.”

Dari sisi keilmuan, menguap adalah gejala otak kekurangan suplai oksigen dan nutrisi. Ini karena pernapasan kurang menyuplai oksigen ke otak dan tubuh. “Hal ini terjadi ketika sedang pusing, kantuk lesu dan pada orang yang sedang menghadapi kematian,” tutur Ustadz Tri, mengutip sebuah artikel.

Bahwa menguap dibenci Allah sebagaimana hadits di atas, Ustadz Tri bertutur, karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan. Akibatnya, menjadi malas beribadah.

Ustadz Tri membandingkan, para Nabi tidak pernah menguap. Salah satu faktornya adalah gaya tidur Nabi, yakni miring ke kanan. Gaya tidur seperti ini memungkinkan suplai oksigen ke otak tercukupi. Dalam kondisi ini, maka tidurnya berkualitas. “Yang penting dari tidur, bukan kuantitasnya tapi kualitasnya,” kata Ustadz Tri menjelaskan. Selain itu, lanjut Ustadz Tri, seringnya menguap juga merupakan akibat banyaknya makan.


Mengenai sendawa, sebagaimana saat menguap, cukup dengan menahan sebisa mungkin. Soal hukum sendawa saat sholat, Ustadz Tri menjelaskan, ada dua pendapat. 



“Pertama, jika keluar suara padahal sebenarnya bisa ditahan, maka itu membatalkan shalat,” kata Ustadz Tri mengutip pendapat Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan as-Syaibani. “Namun demikian, jika sudah berusaha menahan tapi tetap tidak bisa ditahan, maka itu tidak membatalkan shalat,” lanjutnya.

Pendapat ke dua berasal dari madzab Malikiyah, bahwa sendawa dan keluar dahak hukumnya sama dengan berdehem, maka tidak membatalkan shalat. “Namun, jika sendawa hanya untuk main-main (bukan karena ada udzur), maka membatalkan shalat,” kata Ustadz Tri, melanjutkan pendapat madzab Malikiyah.

Demikian merupakan bukti atas sempurnanya Islam yang mengatur hal-hal kecil semacam itu. Semestinyalah, sebagai seorang muslim, kita patut mengimaninya. Sebab, para ulama sepakat, penolakan terhadap aturan-aturan ajaran Islam –yang meskipun hal-hal kecil– dapat mengantarkan pada kekufuran.


Tentunya, tidak berarti bahwa dengan mempelajari hal-hal kecil semacam itu lalu kemudian hal-hal yang berkaitan dengan akidah, dsb terabaikan. Ustadz Tri mengatakan, itu lebih utama. Namun demikian, sebagai penyempurna atas pengamalan ajaran Islam, hal-hal kecil semacam itu patut pula diamalkan. “Kita tetap mengamalkan semua yang diajarkan Allah dan Rasulullah,” ujar Ustadz Tri menegaskan. (RDL)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Gamais Faperta UNSOED - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger