Slider
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
17.35
PURWOKERTO, GamaisNews—Kekuatan kita sebagai seorang
muslim, terletak pada totalitas kepasrahan kepada Allah. Dan totalitas
kepasrahan kepada Allah, yakni tawakal, terletak pada totalitas usaha.
Demikian ungkap Ustadz Hermawan memaknai lafadz man jadda wajada dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais, Jumat (10/10) di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed. “Tawakal bisa maksimal, jika usahanya juga maksimal,” tegasnya.
Tapi, dari orang tua yang lumpuh ini kemudian
anak-anak Palestina terbakar semangatnya. Jika Ahmad Yasin menyampaikan materi,
menyampaikan hal-hal yang benar tentang agama, tentang akhlak atau tentang
apapun maka murid-muridnya itu begitu bersemangat untuk melaksanakannya.
Padahal, Ahmad Yasin bukanlah seorang orator yang handal, apalagi sampai berekspresi, gerakannya sangat terbatas. Tapi, ruh yang mewarnai setiap ucapannya, membuat anak-anak Palestina yang dibawah asuhannya menjadi bersemangat.
Man Jadda Wajada: Totalitas Usaha dan Totalitas Kepasrahan
Written By Unknown on Sabtu, 22 November 2014 | 17.35
PURWOKERTO, GamaisNews—Kekuatan kita sebagai seorang
muslim, terletak pada totalitas kepasrahan kepada Allah. Dan totalitas
kepasrahan kepada Allah, yakni tawakal, terletak pada totalitas usaha.Demikian ungkap Ustadz Hermawan memaknai lafadz man jadda wajada dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais, Jumat (10/10) di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed. “Tawakal bisa maksimal, jika usahanya juga maksimal,” tegasnya.
Lafadz man jadda
wajada yang berarti “barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan
berhasil”, hanya peribahasa. Meski demikian, Ustadz Hermawan mengatakan,
setidaknya ini bisa menyemangati kita dan memandangnya dari sudut pandang
sebagai seorang muslim.
“Maka untuk mengiringi semangat bersungguh-sungguh ini, kita sebagai muslim kan disuruh untuk bersungguh-sungguh dalam segala hal. Maka kita harus mengikutinya dengan tawakal kepada Allah SWT,” jelasnya.
“Maka untuk mengiringi semangat bersungguh-sungguh ini, kita sebagai muslim kan disuruh untuk bersungguh-sungguh dalam segala hal. Maka kita harus mengikutinya dengan tawakal kepada Allah SWT,” jelasnya.
Pernyataan itu berimplikasi bahwa sehebat-hebatnya dan
secerdas-cerdasnya berusaha, namun ketetapan segala sesuatu tetap berada di
tangan Allah SWT. Namun, bukan berarti manusia hanya pasrah menunggu hasil
tanpa melakukan usaha. Sebab, dalam Q.S. Ar-Ra'd: 11, Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang
mengubah apa-apa yang pada diri mereka.”
Karena itu, Ustadz Hermawan melanjutkan, harus dikaitkan
antara seluruh usaha dengan takdir atau dengan keputusan Allah SWT. Keduanya,
harus berjalan selaras, tidak ada tawakal tanpa usaha dan jika tidak ada usaha
berarti tidak tawakal.
Patut menjadi catatan, bahwa tidak disebut tawakal
jika hanya berdoa kepada Allah SWT dengan pasrah yang tanpa diiringi usaha. “Itu
namanya menuntut Allah memberikan sesuatu yang tidak kita usahakan,” ujarnya.
Untuk bertawakal kepada Allah SWT, maka tidak lain
yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong diri, menyemangati diri,
memaksimalkan diri untuk segera berbuat, segera beramal, segera melakukan
sesuatu dengan total agar kemudian bisa bertawakal kepada Allah.
“Ini adalah dua hal yang harus senantiasa kita pegang, usaha yang keras di satu sisi, dan di sisi yang lain juga kepasrahan yang penuh kepada Allah,” Ustadz Hermawan menegaskan.
“Ini adalah dua hal yang harus senantiasa kita pegang, usaha yang keras di satu sisi, dan di sisi yang lain juga kepasrahan yang penuh kepada Allah,” Ustadz Hermawan menegaskan.
Keteladanan
Syekh Ahmad Yasin
Sebuah kisah luar biasa berkaitan dengan man jadda wajada datang dari seorang
Syekh Ahmad Yasin. Ia adalah seorang tokoh perjuangan Palestina yang kemudian
harus berhadapan dengan helicopter APACE milik Israel. Ia lumpuh, sudah tua dan
berada di atas kursi roda. Namun, untuk menghadapinya, Israel memerlukan banyak
tentara dan helicopter.
Saat berusia 16 tahun, sebagaimana anak-anak Palestina
pada umumnya, Syekh Ahmad Yasin sudah mempunyai semangat luar biasa untuk
membebaskan tanah airnya dari penjajahan zionis Israel. Ia saat itu belum
lumpuh.
Semangat dan kesiapan Syekh Ahmad Yasin untuk berjuang
melawan penjajahan Israel pun harus diuji, yakni pada saat ia hendak menjadi
bagian dari perjuangan Brigade Izzudin al Qosam. Ia beserta anak-anak Palestina
lainnya pun mencoba menguji sejauh mana kesiapan dan kekuatan mereka melalui
sebuah permainan yang disebut head stand,
berdiri dengan menggunakan kepala.
“Untuk menunjukkan bahwa mereka kuat dan siap mendaftar Brigade Izzudin al Qosam,” ujar stadz Hermawan menjelaskan. “Karena di samping hafalan Quran-nya harus banyak, kekuatan fisik mereka juga harus bagus.”
“Untuk menunjukkan bahwa mereka kuat dan siap mendaftar Brigade Izzudin al Qosam,” ujar stadz Hermawan menjelaskan. “Karena di samping hafalan Quran-nya harus banyak, kekuatan fisik mereka juga harus bagus.”
Syekh Ahmad Yasin saat itu menjadi peserta lomba head stand yang harus adu kuat dengan
anak-anak Palestina lainnya. Ia yang memang mempunyai tekad kuat untuk siap
berjuang, mampu bertahan lebih lama dalam kondisi head stand dibanding yang lain.
Namun, selang beberapa waktu, ia mengalami hilang
kesadaran. Allah memberikan ujian kepadanya, yakni kaki yang tidak bisa
digerakkan. Itu menjadi awal mula kelumpuhannya. Akan tetapi, yang terjadi
adalah ujian, tekad, semangat, cita-cita untuk membebaskan Palestina itu tidak
pernah padam dari diri Ahmad Yasin. Ahmad Yasin kemudian memilih untuk
memperdalam ilmu agama dan kemudian menjadi guru sekolah dasar dalam kondisinya
yang lumpuh.
Tapi, dari orang tua yang lumpuh ini kemudian
anak-anak Palestina terbakar semangatnya. Jika Ahmad Yasin menyampaikan materi,
menyampaikan hal-hal yang benar tentang agama, tentang akhlak atau tentang
apapun maka murid-muridnya itu begitu bersemangat untuk melaksanakannya.Padahal, Ahmad Yasin bukanlah seorang orator yang handal, apalagi sampai berekspresi, gerakannya sangat terbatas. Tapi, ruh yang mewarnai setiap ucapannya, membuat anak-anak Palestina yang dibawah asuhannya menjadi bersemangat.
“Jadi, dalam kondisi yang lumpuh seperti itu, ternyata
mimpi, harapan dan cita-cita tetap dijaga oleh seorang Ahmad Yasin. Itu
menginspirasi banyak orang, kemudian pemuda-pemuda Palestina menjadi luar biasa
dan akhirnya melalui Hamas, melalui Brigadir Izzudin al Qasam, mereka melakukan
perlawanan yang tidak pernah berhenti sampai sekarang,” ujar Ustadz Hermawan.
Kepasrahan penuh kepada Allah setelah berusaha secara
total menjadi penting. Sebab itu menunjukkan, seberapa besar keikhlasan akan hasil apapun yang diperoleh setelah melakukan segala usaha. Ada saat dimana
Allah memberikan sesuatu justru setelah manusia mengikhlaskannya. Seolah Allah sedang
menegur, permintaan tolong kepada selain-Nya tak ada artinya. “Untuk membuktikan
bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas segala hal,” Ustadz Hermawan menegaskan. (RDL)
Label:
BERITA
14.44
Tahun ke
tiga Gamais mengadakan agenda Qurban di Desa Banteran, dan alhamdulillah tahun ini mendapat 4 hewan hasil
kepercayaan masyarakat kampus. Dimulai dari mahasiswa, alumni, donatur dan
saudara-saudara muslim di luar Unsoed.
Daging atau darah bintang apa pun yang disembelih
dengan menyebut nama Allah itu tidak ada nilainya dihadapan Allah jika amalan tersebut
tidak dilakukan karena Allah. Di sinilah, faktor-faktor pentingnya adalah
niat baik dan keikhlasan kepada Allah saat menjalankan suatu perbuatan atau
peribadatan kepada Allah. Karena itu, seorang manusia tidak akan meningkat
kemuliaannya di mata Allah hanya karena amal, ibadah,
sikap, dan kata-kata baiknya.
Qurban Tebar Cinta
Written By Unknown on Kamis, 09 Oktober 2014 | 14.44
PURWOKERTO, GamaisNews—Banteran, 5 oktober 2014 Gamais Unsoed kembali gelar agenda sosial yakni
Qurban sebagai wujud tebar cinta terhadap sesama muslim.
Tahun ke
tiga Gamais mengadakan agenda Qurban di Desa Banteran, dan alhamdulillah tahun ini mendapat 4 hewan hasil
kepercayaan masyarakat kampus. Dimulai dari mahasiswa, alumni, donatur dan
saudara-saudara muslim di luar Unsoed.
Kurang lebih satu bulan panitia menggalang dana mulai dari menjual stiker
qurban, menyebar silinder infaq, menyebar pamflet-pamflet terhadap donatur dan alhamdulillah terkumpul Rp 4.118.300,00.
Dana tersebut kita alokasikan untuk membeli 2 ekor kambing dengan harga
masing-masing kambing Rp 2.000.000,00
lalu sisanya Rp 118.300 kita masukan kedalam infaq Gamais untuk agenda
sosial yang lain. Adapun dari mahasiswa dan saudara muslim di luar kampus yang menitipkan uang untuk qurban sendiri dan memberikan
kepercayaan terhadap Gamais untuk mengelolanya.
Antusias masyarakat Desa Banteran dan kebahagiaan yang muncul inilah tujuan
kita, menebar cinta. Karena Allah memberikan
amanah untuk mengelola kehidupan kepada manusia dan untuk menjemputnya harus
didasari niat dan orientasi cinta yang tulus. Salah
satu usaha napak tilas untuk mengukuhkan cinta kita kepada Allah adalah melalui
qurban dengan segala dimensi filosofisnya, dan cermin aktor yang qurbannya
diterima karena ketulusannya adalah Nabi Ibrahim,Siti Hajar, Ismail
ketiga aktor tersebut telah teruji dalam imannya.
Sahara gersang
dan tandus kian memotivasi kegigihan Nabi Ibrahim dalam berujang dan menjadikan
Siti Hajar menjadi wanita solihah kemudian melahirkan pemuda tangguh sepanjang
masa yang dikenal dengan nama Ismail.
" Tiada suatu amal
bagi anak adan yang lebih Allah cintai pada hari Idul Adha kecuali dengan
menumpakan darah (berqurban)" (H.R Tirmidzi dari Aisyah)
Tentu saja semua itu adalah perbuatan yang harus
dilakukan seorang muslim sepanjang hidup mereka untuk mendapatkan balasan yang
besar di hari pembalasan. Akan tetapi, faktor
terpenting yang harus diperhatikan saat memenuhi semua perbuatan itu adalah
tingkat kedekatan yang dirasakan seseorang dengan Allah.Yang penting bukanlah
banyaknya perbuatan yang kita lakukan, melainkan bagaimana seseorang berpaling
kepada Allah dengan kebersihan dan keikhlasan hati. (kajian Idul Adha Masjid Baiturrahman-Banteran)
Semoga Gamais selalu menebar cinta menuju cinta-Nya.
Jazakumullah.
(DG & SP)
Label:
BERITA
00.11
Jumlah peserta terdaftar yakni 57 peserta yang berasal dari berbagai desa
sekitar banyumas. Antusias yang tinggi dari warga dan peserta menjadi modal
kami dalam menyelenggarakan acara ini, pendopo PKM pun dipenuhi dengan
kegembiraan dan padatnya kendaraan orang tua atau wali dari peserta yang in
syaa allah berkah dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.
Berkolaborasi dengan Lazis Mafaza, Gamais Adakan Khitanan Massal
Written By Unknown on Sabtu, 21 Juni 2014 | 00.11
PURWOKERTO,
GamaisNews—Gamais merupakan unit kegiatan mahasiswa kerohanian Islam Fakultas Pertanian Unsoed. Minggu, 15 juni 2014 menjadi hari sejarah bagi Gamais karena ini kali pertama mengadakan khitanan massal yang luar biasa, acara bisa berjalan dengan maksimal dengan bantuan banyak pihak. Departemen
Syiar Gamais berkolaborasi dengan Lazis Mafaza dalam penyelenggaraan
acara ini. Tema yang diusung yakni “Cinta
Generasi Sholeh dan Sehat melalui Berbagi”, Merupakan wujud syiar dan kepedulian Gamais terhadap bakal generasi penerus dakwah.
Jumlah peserta terdaftar yakni 57 peserta yang berasal dari berbagai desa
sekitar banyumas. Antusias yang tinggi dari warga dan peserta menjadi modal
kami dalam menyelenggarakan acara ini, pendopo PKM pun dipenuhi dengan
kegembiraan dan padatnya kendaraan orang tua atau wali dari peserta yang in
syaa allah berkah dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.
Pembukaan acara khitanan dimulai pukul 08.20 WIB di pendopo PKM Unsoed
diisi dengan sambutan-sambutan dan pembacaan ayat suci al-quran serta dilanjut
dengan simbolis pembukaan acara khitanan massal dengan gunting pita oleh
perwakilan Lazis Mafaza yakni Bapak Syarif dengan
bacaan basmallah acara khitanan massal dibuka, diikuti dengan bunyi ambulance dan diringi iring-iringan
peserta dengan mengendarai mobil menuju klinik Mafaza untuk dilanjut acara hiburan dan dikhitan.
Acara yang diarahkan oleh Lasika Fatah sebagai koordinator lapangan
mampu menyulap kawasan Karangwangkal dan Grendeng heboh dan
ramai dengan teriakan semangat dari peserta khitan massal. Menurutnya, ini program perdana Departement Syiar Gamais yang bekerjasama
dengan Lazis Mafaza dalam melejitkan syiar
Islam, maka kami Gamais harus mampu bekerjasama dengan baik dan mengikuti
ritme kerja dari lembaga yang
bersangkutan serta menunjukkan totalitas
kita sebagai kader dakwah.
Peserta khitanan massal menerima fasilitas yang memadai yakni pemberian
baju koko, peci, sarung dan santunan serta pengobatan gratis bagi peserta yang
ingin control setelah khitan. Berbagai ekspresi peserta tergambar
ketika mereka dikhitan dan setelah khitan. Ada yang menangis, ketakutan,
cengengesan, berani dan berbagai ekspresi lainnya hal itu lumrah terjadi.
Selain itu, bagi peserta yang menunggu antrian khitan tidak jenuh karena mereka menikmati
motivasi dan hiburan oleh team acara.
Sang motivator menanyakan cita-cita setiap peserta dan syarat mewujudkannya
yakni,
“Syarat buat bisa
jadi polisi, pilot, guru, bahkan presiden itu satu kuncinya, yaitu harus di? SUNAT
(teriakan peserta khitan dengan menggempalkan tangan keatas). Dan manfaat
dikhitan itu tiada lain agar kita tidak ke?
Kejepit (resleting) dan kalo udah dikhitan itu rasanya? plong.” Ujar mas Ahmad dalam memberikan
motivasinya.
Satu persatu peserta dikhitan hingga pukul 13.30 WIB acara berakhir ditutup oleh
MC. Adapun ungkapan dan harapan
dari salah satu wali peserta,“Alhamdulillah
dengan adanya khitanan massal kami sangat terbantu dalam segalanya, bagi kami
yang kurang mampu terasa lebih ringan, fasilitas yang disediakan sudah memadai. Semoga Lazis Mafaza dan Gamais tetap selalu
bermanfaat dan berbagi bagi umat dan tetap berkarya fisabilillah, serta kami
berharap Gamais dapat berbuat yang lebih baik lagi untuk meningkatkan karyanya
dan mengadakan kegiatan didaerah kami yang
tertinggal yaitu Tanggeran Somagede-Banyumas.” (AY)
Label:
BERITA
00.07
Munculnya raja’
dan khauf dalam lafad in sya Allah merupakan konsekuensi dari
syahadat. Keduanya, adalah bukti keimanan kita kepada Allah. Sebab, pada
dasarnya ajaran keimanan kita kepada Allah memunculkan adanya sikap harap dan
takut, yaitu raja’ dan khauf.
Bagian dari Keimanan, In Sya Allah: Berharap Penuh, Pasrah Sepenuhnya
Written By Unknown on Sabtu, 31 Mei 2014 | 00.07
PURWOKERTO, GamaisNews—Lafad in sya Allah merupakan bagian dari keimanan. Ini sebab, syahadat
kita, keyakinan kita kepada Allah swt memunculkan dua hal, yaitu raja’ atau harapan kepada Allah, dan khauf atau rasa takut yang membuat kita
sadar sepenuhnya bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa seizin Allah.
“Berharap penuh kepada Allah, tapi juga pasrah
sepenuhnya,” ujar Ustadz Hermawan memaknai lafadz in sya Allah, dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais, Rabu
(7/5) di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed.
Munculnya raja’
dan khauf dalam lafad in sya Allah merupakan konsekuensi dari
syahadat. Keduanya, adalah bukti keimanan kita kepada Allah. Sebab, pada
dasarnya ajaran keimanan kita kepada Allah memunculkan adanya sikap harap dan
takut, yaitu raja’ dan khauf.
Ustadz Hermawan mengatakan, adanya raja’ dan khauf dalam ajaran Islam
dibuktikan dengan kandungan isi ayat-ayat al-Qur’an yang kadang-kadang
menceritakan indahnya surga secara detail. Namun, al-Qur’an juga memberikan
gambaran soal siksa neraka dan hal-hal yang berhubungan dengannya. “Agar
manusia bisa memilih berharap surga, dan kalau mau melakukan dosa, ia takut sama
neraka,” kata dia.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap raja’ dan khauf ini juga berkaitan dengan hal-hal keduniawian. Sikap raja’
memunculkan optimisme bahwa segala sesuatu tak ada yang tak mungkin sepanjang
Allah mengabulkan. Karena itu, sikap raja’
ini memunculkan harapan kepada Allah.
Di sisi lain, iman kita juga memunculkan sebuah sikap khauf. Sikap khauf ini, menimbulkan kesadaran bahwa segala sesuatu tidak mungkin
akan terjadi kecuali dengan seizin Allah. Karena itu, sikap raja’ dan khauf ini merupakan bagian dari seni keberimanan kepada Allah.
“Sehingga indah sekali sebenarnya kalimat in
sya Allah itu,” ujar Ustadz Hermawan.
Konteks keimanan dalam lafad in sya Allah sangat besar. Kaitannya dengan sikap raja’ dan khauf, konsep keduanya memunculkan sikap tawakal. Seperti
diketahui, tawakal
adalah menetapkan dan berserah diri kepada Allah swt atas semua kejadian atau hasil yang
diterimanya dengan keyakinan bahwa Allah swt yang memiliki kehendak terhadap
semua makhluk-Nya. Dengan
pengertian itu, maka sangat jelas keterkaitan antara raja’-khauf dan tawakal.
Dikatakan Ustad Hermawan, menjadi
dosa jika saat mengatakan in sya Allah,
tidak diiringi dengan niat untuk melaksanakannya. “Kalau hati kita gak yakin,
jangan bilang,’in sya Allah bisa’,”
katanya.
Namun, lanjut dia, tidak menjadi
masalah jika pada saat mengucapkan in sya
Allah, niatnya benar-benar mau berusaha, sungguh-sungguh
karena Allah, dan sudah terbayang betapa beratnya usaha yang harus kita lakukan
untuk mewujudkan. “Dan itu sudah kita rencanakan dalam pikiran kita,” ujar
Ustadz Hermawan. “Kalau sudah usaha tapi gak
tercapai, itu gak papa,” tambah dia.
Ustadz hermawan mencontohkan, meski
IPK sekarang 2,5, boleh berharap kelak menjadi 3,5. Namun, kata dia, tentu harus
diiringi dengan usaha. “Kalau memang
cita-cita kita besar, maka keringat kita juga harus banyak,” ujarnya.
“Jadi ini adalah iman, dan usaha itu bagian dari iman.
Kita percaya dengan Allah, karena kita percaya Allah yang memutuskan, maka seperti
apapun, kita berusaha. Kita berusaha, karena kita yakin kepada Allah.”
lanjutnya.
Sebab Allah swt berfirman,
“Dan
katakanlah:
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan
melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
Makna in sya
Allah yang sebenarnya, kata Ustadz Hermawan, adalah menggerakkan. Ketika
mengucapkan lafad in sya Allah,
berarti ada keyakinan dan kepasrahan kepada Allah, kemudian berusaha agar Allah
mewujudkannya. “Kita yakin, sangat yakin, tapi keyakinan itu kita kembalikan
kepada Allah swt,” ucapnya. “Maka, in sya
Allah itu adalah kalimat yang mendorong kita sampai ke limit batas kemampuan
kita,” lanjutnya.
Ibroh untuk
manusia
Lafad in
sya Allah dalam al-Qur’an, pertama kali bersamaan dengan turunnya QS.
Al-Kahfi: 23-24,
"Dan jangan
sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan
mengerjakan itu besok pagi", kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah’.”
Ayat di atas adalah teguran kepada Rasulullah saw yang
saat itu mendapat pertanyaan dari seorang sahabat soal kisah Ashabul kahfi. Rasulullah saw saat itu tak
sanggup memberi jawaban pasti. Tanpa menyebut in sya Allah, beliau berkata
kepada sahabat yang bertanya, "Jawabannya
akan kuberikan besok." Padahal, maksud
Rasulullah menjawab itu adalah ‘nanti in
sya Allah wahyu akan turun’.
Biasanya pada
saat-saat seperti demikian, keesokannya turun wahyu sebagai jawaban. Keesokan harinya, fajar telah
menyingsing menyambut mentari terbit di ufuk timur. Sang surya terus menyemai
panas di atas kepala sehingga dzuhur. Namun, wahyu
dari Sang Khaliq tak kunjung turun memberikan jawab. Akhirnya sore semakin
tinggi. Senjapun memerah
mengantar kegelapan malam. Berhari-hari
Rasulullah saw menantikan wahyu itu. Lewat lima belas hari turunlah wahyu.
Ibroh yang dapat diambil dari peristiwa di atas adalah
agar tidak menjanjikan sesuatu, memastikan sesuatu tanpa mengucapkan in sya Allah. “Karena sebenarnya
pengetahuan manusia itu sangat terbatas,” ujar Ustadz Hermawan.
Lebih jauh, Ustadz Hermawan menambahkan, jika orang
yang tingkat keimanannya selevel Rasulullah saja ditegur Allah saat tidak
mengucapkan in sya Allah, kita jangan
berani-berani. Ini sebab, seoptimis-optimisnya kita, semua adalah ketetapan
Allah. “Tidak bisa kita memastikan,” tuturnya.
Bukan untuk
melegitimasi hal-hal yang dilarang
Lafad in sya
Allah sering kali disalahartikan, salah satunya sebagai bentuk penolakan
secara halus. Padahal, lafad in sya Allah
adalah manifestasi dari keimanan. Ustadz Hermawan menegaskan, jika mengatakan in sya Allah atas suatu janji, maka
menjadi keharusan untuk memenuhi apa yang dijanjikan itu. “Kalau kita ngomong in sya Allah maksudnya ya ‘iya’,” ujarnya. “Jangan sampe
sekali-kali kita mengucapkan insya Allah
untuk mengingkari,” tambahnya.
Untuk itu, ia menghimbau untuk hanya memakai lafad in sya Allah terhadap suatu hal yang
sudah jelas kepastiannya. “Jangan menjanjikan sesuatu yang kepastiannya tak
jelas,” tegasnya.
Di sisi lain, tidak pula diperbolehkan menggunakan lafad in sya Allah guna
melegitimasi hal-hal yang dilarang Allah. Ustadz Hermawan mencontohkan,
misalnya digunakan untuk melegitimasi kesombongan. “Kalau masalah ganteng mah, in
sya Allah saya,” ujarnya, yang diikuti gelak tawa peserta YUMI. (RDL)
Label:
BERITA
10.43
“Gamais dapat memicu semangat belajar anak-anak TPA
karena mereka (anak-anak TPA-red.) masih membutuhkan motivasi dari orang-orang
yang terbiasa dengan pendidikan,” ujar Nurhamid dalam sambutannya pada acara
Opening TPA Binaan Gamais, Minggu (13/4).
Hadirnya Gamais Picu Semangat Belajar Anak-Anak TPA Desa Banteran
Written By Unknown on Minggu, 20 April 2014 | 10.43
PURWOKERTO, GamaisNews—Kontribusi Gamais di desa
binaannya, Desa Banteran, semakin terlihat hasilnya. Tokoh masyarakat Desa
Banteran, Nurhamid mengatakan, selain memberikan wawasan keislaman, hadirnya
Gamais mampu memicu semangat belajar anak-anak TPA Desa Banteran.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan menjadi faktor utama
pemicu semangat belajar anak-anak TPA Desa Banteran. Dikatakan Nurhamid, usia mereka
yang sebagian besar berada pada jenjang pendidikan SD/SMP menyebabkan mereka masih memerlukan
motivasi belajar dari orang-orang yang terbiasa dengan pendidikan.
“Gamais dapat memicu semangat belajar anak-anak TPA
karena mereka (anak-anak TPA-red.) masih membutuhkan motivasi dari orang-orang
yang terbiasa dengan pendidikan,” ujar Nurhamid dalam sambutannya pada acara
Opening TPA Binaan Gamais, Minggu (13/4).
Anak-anak TPA Desa Banteran, kata Nurhamid, salut dengan
Gamais karena mereka berpikiran kakak-kakak Gamais ada yang lebih pandai.
Sementara itu, Nurhamid mengeluhkan minimnya pengajar
di TPA Desa Banteran. Minimnya pengajar mengharuskan
diterapkannya sistem rolling. “Pengajarnya cuma dua orang, makanya harus sip-sipan,” ujarnya. Itu pun, lanjut Nurhamid, hanya mengajar pengetahuan agama.
Oleh karena itu, ia berharap, rencana Gamais untuk mengajar tidak hanya pengetahuan agama tapi juga pengetahuan umum dapat terlaksana. "Sangat bersyukur sekali kalau itu terlaksana," ungkapnya. (RDL)
Label:
BERITA
08.55

Bukti Kesempurnaan Islam, Hal-Hal Kecil pun Diatur
Written By Unknown on Rabu, 09 April 2014 | 08.55
PURWOKERTO,
GamaisNews—Islam itu sempurna, hal-hal kecil pun diatur. Merupakan bukti
kesempurnaan Islam adalah diaturnya adab saat bersin, menguap dan sendawa. Jika
bersin, ucapkan hamdalah. Jika menguap atau bersendawa, tahan semampunya. Demikian
disampaikan Ustadz Tri dalam Kajian Yuk Mengenal Islam (YUMI) Gamais di Masjid HR. Boenyamin Fakultas Pertanian Unsoed, Kamis
(27/3).
Ustadz
Tri mengatakan, jika seorang muslim bersin mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka
semua muslim yang mendengarkan wajib mengucapkan ‘Yarhamukallah’. Kemudian,
muslim yang bersin menjawabnya ‘Yahdikumullahu wa
yushlihu balakum’. Pernyataannya ini, merupakan penjelasan dari hadits berikut.
Rasulullah
saw bersabda: "Jika seseorang di antaramu bersin, maka hendaklah
mengucapkan, ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah saudaranya mengucapkan,
‘Yarhamukallah’, dan jika saudaranya telah mengucapkan, ‘Yarhamukallah’ maka
hendaklah ia membalas, ‘Yahdikumullahu wa yushlihu balakum’ ". (HR.
Bukhari)
Dikatakan
Ustadz Tri, ucapan hamdalah saat bersin merupakan bentuk ibadah dalam rasa
syukur. Sebab, bersin itu menyehatkan. Bersin merupakan mekanisme tubuh untuk
mengeluarkan debu-debu, kotoran dan mikroba yang terjaring bulu-bulu hidung.
Selain itu, bersin menyebabkan sesama muslim saling mendoakan. “Itu mengapa
bersin dicintai Allah,” ujarnya. Sebagaimana tercantum dalam hadits berikut.
“Sesungguhnya
Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin,
hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdullillah’). Dan merupakan
kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya… “(HR. Bukhari)
Soal
adab saat bersin, Ustadz Tri mengutip hadits riwayat Tirmidzi dan Abu Daud.
Bahwa saat bersin, Rasulullah saw menutupi wajahnya dengan tangan dan merendahkan
suara. “Menutup mulut dan hidung dengan tangan, rendahkan suaranya dan jangan
dihadapkan ke temennya ya…, hujan lokal,” katanya, bergurau.
Bahkan,
para ulama sepakat, bersin saat shalat pun boleh mengucapkan ‘Alhamdulillah’.
Namun demikian, bagi yang mendengarkan tidak wajib menjawabnya. Demikian pun,
saat khutbah Jum’at, hanya yang bersin yang mengucapkan ‘Alhamdulillah’. “Karena
saat khutbah Jum’at, fokus mendengarkan khotib,” tuturnya.
Sementara
itu, jika orang yang bersin tidak mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka yang
mendengarkan tidak boleh mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Begitupun, tidak pula
diperbolehkan mengucapkan ‘Yarhamukallah’. “Maka sunahnya, mengucapkan
‘Alhamdulillah’ itu dengan disuarakan. Begitu pun dengan yang mengucapkan
‘Yarhamukallah,” ujar Ustadz Tri.
Namun
demikian, Ustadz Tri menegaskan, anjuran mengucapkan ‘Alhamdulillah’ saat
bersin tidak berlaku saat berada di toilet. Ia mengatakan, itu dilarang. Hal
ini terkait dengan larangan menyebut nama Allah saat berada di toilet.
Berbeda
dengan saat bersin, tidak ada dzikir khusus pada saat menguap. Ustadz Tri
mengatakan, cukup dengan menahan semampunya. Hal ini tercantum dalam hadits
berikut.
“…Adapun
menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk
menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu
setan menertawakannya.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Membaca ta’awudz
saat menguap hanyalah pendapat bahwa jika menguap memasukkan setan, maka
mengeluarkannya dengan membaca ta’awudz. Namun demikian, anjuran membaca
ta’awudz saat menguap menurut sebagian ulama’ dan kebanyakan masyarakat, itu
berdalil pada firman Allah,
“Apabila
setan mengganggumu, maka mintalah perlindungan kepada Allah.”
Sementara Nabi
saw bersabda, menguap itu dari setan. “Pendalilan semacam itu tidak pada
tempatnya, karena memang Rasulullah tidak menganjurkan (untuk membaca ta’awudz
saat menguap),” ujar Ustadz Tri, mengutip pendapat Syekh Sulaiman Al Majid.
Mengenai menguap
saat shalat, Ustadz Tri mengutip pendapat dari Imam Malik ra sebagai berikut.
“Mulutnya ditutup dengan tangannya ketika shalat sampai selesai
menguap. Jika menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, kalau dia memahami
apa yang dibaca, maka hukumnya makruh namun sudah mencukupi baginya
(bacaan dia). Tetapi jika tidak memahaminya, maka dia harus mengulangi
bacaannya, dan jika tidak mengulanginya, -kalau bacaan tersebut adalah surat
Al-Fatihah-, maka itu tidak mencukupi (tidak sah shalatnya), dan kalau selain
Al-Fatihah, maka sudah mencukupinya (shalatnya sah).”
Lebih lanjut
tentang menguap saat shalat, mengutip pendapat Al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah, Ustadz Tri mengatakan,
“Dan di
antara yang diperintahkan bagi orang yang menguap adalah jika sedang shalat,
maka dia harus menghentikan bacaannya sampai menguapnya selesai, agar bacaannya
tidak berubah. Disampaikan oleh Syekh Sulaiman Al Majid, bahwa
tidak ada dalil soal doa atau dzikir yang dibaca saat menguap.”
Dari sisi keilmuan, menguap adalah gejala otak kekurangan suplai
oksigen dan nutrisi. Ini karena pernapasan kurang menyuplai oksigen ke otak dan
tubuh. “Hal ini terjadi ketika sedang pusing, kantuk lesu dan pada orang yang
sedang menghadapi kematian,” tutur Ustadz Tri, mengutip sebuah artikel.
Bahwa
menguap dibenci Allah sebagaimana hadits di atas, Ustadz Tri bertutur, karena
menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan. Akibatnya,
menjadi malas beribadah.
Ustadz
Tri membandingkan, para Nabi tidak pernah menguap. Salah satu faktornya adalah
gaya tidur Nabi, yakni miring ke kanan. Gaya tidur seperti ini memungkinkan suplai
oksigen ke otak tercukupi. Dalam kondisi ini, maka tidurnya berkualitas. “Yang
penting dari tidur, bukan kuantitasnya tapi kualitasnya,” kata Ustadz Tri
menjelaskan. Selain itu, lanjut Ustadz Tri, seringnya menguap juga merupakan akibat banyaknya makan.
Mengenai
sendawa, sebagaimana saat menguap, cukup dengan menahan sebisa mungkin. Soal hukum sendawa saat sholat, Ustadz Tri menjelaskan, ada dua pendapat.
“Pertama, jika keluar suara padahal sebenarnya bisa ditahan, maka
itu membatalkan shalat,” kata Ustadz Tri mengutip pendapat Imam Abu Hanifah dan
Muhammad Hasan
as-Syaibani. “Namun demikian, jika sudah berusaha menahan
tapi tetap tidak bisa ditahan, maka itu tidak membatalkan shalat,” lanjutnya.
Pendapat
ke dua berasal dari madzab Malikiyah, bahwa sendawa dan keluar dahak hukumnya
sama dengan berdehem, maka tidak membatalkan shalat. “Namun, jika sendawa hanya
untuk main-main (bukan karena ada udzur),
maka membatalkan shalat,” kata Ustadz Tri, melanjutkan pendapat madzab
Malikiyah.
Demikian
merupakan bukti atas sempurnanya Islam yang mengatur hal-hal kecil semacam itu.
Semestinyalah, sebagai seorang muslim, kita patut mengimaninya. Sebab, para
ulama sepakat, penolakan terhadap aturan-aturan ajaran Islam –yang meskipun
hal-hal kecil– dapat mengantarkan pada kekufuran.
Tentunya, tidak berarti bahwa
dengan mempelajari hal-hal kecil semacam itu lalu kemudian hal-hal yang
berkaitan dengan akidah, dsb terabaikan. Ustadz Tri mengatakan, itu lebih
utama. Namun demikian, sebagai penyempurna atas pengamalan ajaran Islam,
hal-hal kecil semacam itu patut pula diamalkan. “Kita tetap mengamalkan semua
yang diajarkan Allah dan Rasulullah,” ujar Ustadz Tri menegaskan. (RDL)
Label:
BERITA






